Dermoskin SPF 50 Güneş Koruyucu Krem

Plaj mevsimi gitti ama UV ışınları mevsimi tanımıyor. Maalesef :’) O yüzden hava soğumaya başladı ama

Continue reading

Advertisements

Ben Türküm*: Aku Protektif dan Aku Pecemburu

*I’m Turk
***

images (4)
had you? 😀

Yang satu ini kayaknya udah jadi sifat kenegaraan orang sini. Hayah, apalagi itu sifat kenegaraan? Maksudnya, kebanyakan orang sini begonoh 😂

“Kok bisa begitu?”

“Tanyakanlah pada jemuran yang bergoyang..” 🍃

Kalau tebakan ane sih karena moyangnya orang Turki adalah bangsa yang nomaden. Tinggalnya pindah-pindah jadi mau gak mau harus bisa menjaga anggota kelompoknya. Mungkin dulu papa moyang (?) sering bertanya ke mama moyang (?), “Kamu Facebook-an sama siapa, mah?”. Saking seringnya terus jadi kebiasaan yang mendarah daging. Terserap ke dalam DNA gitu ceritanya 😂 Taraaa, jadilah orang Turki kekinian protektif dan cemburuan sama pasangannya.

Ngawur banget 😂😂😂

Kau kata ngawur pun, begitulah adanya kalau berhubungan dengan orang sini. Sering kali nonton program cari jodoh, mereka geger karena nemu upil ‘sesuatu’ di akun sosial media (calon) pasangan mereka.

Sosial media – terutama Facebook karena orang Turki lebih doyan mangkal di sana – gak akan luput dari inspeksi. There’s no sungkanization (?) for requesting your password. Mereka gak akan sungkan 😆 Apalagi kalau hubungan sudah menunjukkan adanya tanda-tanda organ tunggal ke pelaminan.

Ane mah dulu dikasih aja daripada gagal kawin 💔 Eh, maap maap hanya menyuarakan suara hati dari mereka yang bimbang 😅 Ane ikhlas-ikhlas aja ngasihnya toh gak ada halangan privasi maupun prinsip buat ane (tipe manusia masa bodoh 😁).

Gak takut dibajak?

Justru pak bos langsung menitikkan air mata. Bukan karena haru tapi karena syok luar biasa kalau ternyata istrinya alay. Haha.. Maapin yak! 😄

Pokoknya mau dikasih atau enggak itu terserah sampeyan. Siapin alasan juga biar gak dikira lagi nutup-nutupin siswanto, eh sesuatu 😇

Mau ngapain kalau udah dapet password?

Scanning temen! No male friends are allowed. Mau bilang “Dih, gitu amat?”, Amat memang begitu 😣 Kultur di sini memang begitu dan ini syudah diverifikasi oleh bumer yang merupakan gadis Turki tulen pada jamannya 😃 Laki-laki yang masih boleh nongkrong di friend list adalah anggota keluarga. Sisanya ‘kabul etmez’ kata bumer, alias tidak bisa diterima.

Nah, kalau kerabat laki-laki dari pihak suami gimana? Tanya aja ke si doi apa dia ngijinin sampeyan punya kontak mereka.

Ane juga menghadapi fase ini. Hapus satu-satu temen laki-laki gak cuma di Facebook tapi juga di kontak telepon. Agak senewen juga soalnya pak bos yang minta tapi waktu ane nyuruh hapus aja sendiri – biar lebih meyakinkan – doski kagak mau. Pegel euy ngapusnya 😒 HP juga mau njeblug (meledak) karna syudah gila dipaksa kerja rodi 🔥 Tapi demi suami tercintah, ya iya iya lah.. 💞

Lanjut..

Setelah jadi istri orang Turki, jangan lupa minta ijin kalau mau keluar rumah, yak! Percayalah, kalau suami sampeyan gak ngijinin keluar, mertua pun gak akan berani mengeluarkan sampeyan 😴 Walaupun cuma mau ke warung depan apartemen.

Kudu siap-siap juga kalau gak boleh keluar rumah sendiri. Kemana-mana dikawal suami macem bodyguard. Romantis yeee 😳 Belanja pun ditemenin suami. Keliatannya bantu bawain belanjaan tapi aslinya lagi patroli 😂 Soalnya di Turki nih pedagang di pasar aja laki-laki. Ane belum pernah liat emak-emak bakul lombok 😶

Laki-laki sini lebih menghendaki istrinya jadi ibu rumah tangga. Bener juga, sih. Kan dalam Islam juga tempat perempuan itu di rumah 👼 Jadi gak usah heran kalau belanja kebutuhan pokok pun para bapak yang jabanin (mereka juga tau harga pasarannya 😂). Mereka gak akan rela kalau istrinya diperhatiin sama laki Turki lainnya meskipun itu cuma sebatas perhatian antara pedagang sama pelanggannya. Apalagi kalau istrinya yabancı (orang asing) dengan kulit coklat dan hidung yang tumbuhnya malu-malu kucing (baca: pesek).

Pernah suatu hari ane sama pak bos pergi ke Grand Bazaar. Lek-lek penjualnya bilang, “Selamat datang. Apa kabar?” pakai bahasa Indonesia. Langsung disahutin sama pak bos, “Aku suaminya. Pakai bahasa Turki aja.” Etdah, untung gak minta bahasa kalbu 🗿

Langsung jawab telepon dari si doi juga jangan lupa. Kalau sampai missed call, buruan telepon balik sebelum kena teror di seluruh jalur komunikasi 😱 Saking perhatiannya – atau protektifnya – laki Turki, mereka akan catat waktu penampakan terakhir pasangannya di sosial media/media chat lainnya.

Dulu ane pikir cuma ane yang ngalamin. Tapi ternyata ada temennya juga 😝 Ah, hubungan kalau gak ada rasa protektif dan cemburu jadi kayak ada sepet-sepetnyaaa gitu.

 

P.S.:

Yang ane tulis ini berlaku untuk laki-laki Turki. Kalau perempuannya gimana? Kata temen ane, “Kalau laki-lakinya aja cemburuan, perempuannya apalagi.” 😎

Siksa Dapur 

​*eh, judulnya kok macam majalah yang terkenal dengan kisah azab Illahi-nya ya 😅*

Setelah jadi emak-emak konde gawl, idola ane berpindah dari Kang*n B*nd ke ibu-ibu solehah pintar memasak. Alasannya sederhana: ane gak suka masak. Emang iya sih ane doyan makan. Tapi maunya makan dari tangan orang lain (dimasakin, red) 😗 Jatuhnya selalu lebih lahap makan kalau dimasakin. Maklum, ane punya penyakit psikologis: masak, nyium baunya, malah jadi kehilangan nafsu makan 😰 Elah.. Apakah ada yang begini juga? Kalau ada, ane cuma bisa berpesan: jangan ikut aliran yang gak jelas ya, gengs! 

Karna ane gak suka masak jadi ane termasuk dalam barisan perempuan dengan jargon: istri gak harus suka masak! Dulu waktu jaman masih gadis, ane itungannya jarang sekali masuk ke dapur. Kalau ke dapur bagaikan ngutang sama rentenir – pas beneran kepepet aja 😂 Itu pun yang dimasak kalau enggak indomie ya ikan asin. Sebab masak bikin ane stres 😞 Lebih baik ane nyapu, nyuci piring, atau tidur daripada harus berhadapan dengan masakan. Saking gak suka masak, ane pilih nahan lapar dengan minum susu atau ngemil kerikil 😪 Ya yang terakhir ini kalau pas lagi gak punya duit – jadi gak bisa jajan makanan – atau hari sudah malam – jadi gak ada yang jualan. 

I don’t like to cook but I’ve to! Setelah status berubah jadi emak-emak rumah tangga, ane mulai sering masuk ke dapur. Awalnya sih sekedar nonton pak bos masak makanan Turkinya (untungnya nikah sama WNA adalah skill masak ane yang kacau balau gak terlalu mencolok karna ketutup sama ketidaktahuan ane tentang masak memasak ala turka). Setelah agak dong baru perlahan mulai mengambil alih dapur, masak ini masak itu – campur aduk antara makanan Turki sama makanan Indonesia. Mbah ane pun sampai bilang, “Sekarang kamu berubah, ya. Udah mau pegang masakan.” Yang ane jawab, “Enggak, kok. Cuma pakai sampo, Mbah.” 🙋 Tapi tetep, ane gak suka masak. 

Tolong jangan dihujat. Anda sekalian tidak seharusnya memaksa seseorang yang mencintai Didi Kempot untuk beralih ke Slip Knot 😢 Setiap orang punya passion mereka sendiri. Mereka yang berusaha memenuhi kewajibannya bukan berarti mereka suka apalagi harus suka. Di sisi lain bukan berarti gak ikhlas juga. Sama halnya dengan orang yang bekerja. Belum tentu dia suka bekerja – maunya jadi superhero yang menyelamatkan perempuan cantik – tapi tetap harus kerja karna kewajiban dia untuk menghidupi dirinya dan orang-orang yang ditanggungnya. Orang-orang seperti ini berusaha melawan dan menghadapi ketidaksukaannya akan sesuatu demi mereka yang terkasih. Aduh jadi terharu 😥 Jadi kalau ada IRT yang gak suka masak, jangan diocehin seperti ini: “Aduh, kamu kan ibu rumah tangga. Masa gak suka masak sih? Masa gak bisa masak?” Apalagi sampai dilabeli sebagai IRT yang tidak baik. 

Kalau rasa masakannya gak enak?

Masakan enak itu apa sih? Sebatas persetujuan sekelompok orang tentang selera. Kalau banyak yang satu selera, ya masakannya jadi enak. Kalau sedikit yang satu selera, bukan berarti masakannya jadi gak enak. Peminatnya aja yang kurang 😛 Contohnya orang Indonesia di Turki pasti lebih demen makanan Indonesia. Nah, para penduduk Turki jelas akan bilang kalau masakan Turki lah yang paling sedap. Itulah sebabnya di Turki banyak restoran dengan menu ala turka sedangkan di Indonesia banyak restoran dengan menu ala nusantara. Intinya, semakin banyak yang satu selera maka semakin dianggap enaklah itu masakan – makin populer. Tapi apakah dengan dominannya peminat masakan Turki di Turki akan membuat warga Indonesia di sini menganggap masakan Turki jauh lebih enak daripada masakan Indonesia? Nope 😂

Dalam ranah rumah tangga, lidah penghuni rumah wajib menyesuaikan dengan selera sang ibu #maksa 😛 Ga selayaknya kan bilang ke emak, “Mak, masakannya kagak enak.” Bisa dikutuk jadi pohon tauge kau nanti. Hargailah. Kalau pun gak satu selera maka katakanlah dengan cinta 😄

Pernah ane beberapa kali makan bareng keluarga lain dan si anak dengan entengnya bilang ke mamaknya, “Ini apaan?”, dengan nada mencela. Ane gak bisa bayangin gimana perasaannya si ibu itu. Syedih 😞

Kalau ane ditanya, “Apa sih untungnya jadi IRT yang gak suka masak?”. Ah, kalian pasti gak tau kalau ini bisa mengurangi konflik dengan bumer. Kenapa? Sebab sebagai istri gak perlu saingan sama bumer nyediain makanan buat suami. Ada loh yang begini 😀 Berhubung ane gak demen masak jadinya ane pasrahkan saja ke mertuaaa. Lagian ane juga penganut paham bahwa anak-anak pasti lebih demen masakan ibunya.

Suka masak belum tentu masakannya enak. Gak suka masak, bukan berarti mutlak hasil masakannya tidak layak makan ✌