Image
0

Cerita dari Tepi Bosphorus 

senja di tepian Bosphorus

Menikmati senja di tepian Bosphorus, lewat seorang bapak tua dengan gerobak kecilnya. Langkahnya tertatih, suaranya parau, berusaha untuk menjajakan durum (makanan khas Turki yang isinya bisa ayam, atau daging, atau çiğköfte dan dibungkus dengan tortilla). Seolah tak kasat mata, si bapak berlalu begitu saja.

Pemandangan tersebut menghadirkan pertanyaan lama yang kerap timbul tenggelam dalam benak: lebih berat menjadi fakir di negeri kaya atau menjadi fakir di negeri miskin?

Continue reading

0

Pamali Oh Pamali..

Si pamali ini ternyata bukan hanya milik Indonesia saja permisahhh.. Turki juga 😌

Barusan ane duduk di depan pintu kamar, nemenin Ayşe main, terus bumer bilang, “Jangan duduk di depan pintu.” Insting ane langsung berkata: duh, pamali mau keluar nih. Ane tanya alasannya kenapa gak boleh, bumer jawab katanya nanti keluar sesuatu dari balik cahaya. Begitu kalau gak salah tafsir. Nah, kan Continue reading

Image
1

Orangtua yang Selalu Capek

Ada program di TV lokal sini namanya Çocuktan Al Haberi. Entu program semacam kuiz gitu yang melibatkan 9 anak. Setau ane, yang paling kecil umurnya 3,5 tahun dan yang paling besar 6 tahun. Pembawa acaranya akan ngasih pertanyaan ke anak-anak dan 3 orang dewasa sebagai peserta disuruh nebak jawaban anak-anak itu.

maxresdefault

Ebrar, favorit ane di Çocuktan Al Haberi

Suatu hari pertanyaan adalah “lebih suka main sama teman atau sama orangtua?”. Salah satunya ada yang jawab lebih suka sama temennya soalnya temennya gak pernah capek sedangkan orangtua selalu capek.

Uh, little human.. what’s your problem with us being tired? 😥 

Sebagai mantan manusia kecil yang kini telah bertransformasi menjadi bangkotan, ane pikir dia benar. Katakanlah jadi orangtua itu gak gampang. Tapi kenapa kita selalu capek?

Lihat Ayşe tenaganya kok gak ada habisnya jelas bikin gimanaaa gitu. Ntu bayi sambil ngiler enggak berhenti loncat-loncat. Padahal badannya  jauh lebih kecil, 1 meter aja belum ada. Pemain debus juga bukan. Tapi kenapa tenaganya lebih seterong (baca: strong) daripada mamak bapaknya?

Bahagianya sederhana 🙂

Cuma loncat-loncat aja dia bisa ketawa-ketawa sendiri. Nah, kalau orangtua disuruh loncat-loncat? Ketawa enggak, muntah-muntah iya 😅

Anak-anak bahagia dengan hal-hal kecil. Atau tepatnya, hal-hal yang menurut kita kecil. Dan rasa bahagia adalah sumber energi yang penting untuk hidup.

Manusia tua seringnya ‘mengecilkan’ hal-hal kecil. Padahal, ngupil itu juga bisa bikin bahagia 😁

Jangankan anak kecil yang energi malaikatnya masih 100%, ane aja yang energi malaikatnya udah hampir punah juga males kumpul sama orang yang selalu capek.

“Adek lelah, bang..”

“Hayah.. Pergi kau ke rawa-rawa!”

Ini juga catatan buat ane. Kalau ane gak mau disebut sebagai orangtua yang selalu capek sama si Ayşe maka ane harus bisa mendapatkan rasa bahagia dari hal-hal yang sederhana – belajar dari manusia kecil.

Jangan lupa bahagia yak ✌

Image
0

Mempelai Wanita yang Murahan

2015, beberapa bulan menjelang pernikahan ada yang mengucapkan kata-kata saru ini ke ane:

“Minta mahar yang banyak karena mahar itu harga diri wanita.”

Kenapa ane bilang saru?

Pertama, ybs mengucapkan hal di luar kapasitasnya. Bukan urusannya. Emak Bapak ane aja enggak uprek soal mahar, ini kok orang lain mau ambil peran 😫

Kedua, maksudnya ngomong seperti itu apa ya? Mencoba menakar harga diri perempuan dengan banyak tidaknya jumlah mahar yang dia terima? Jadi kalau perempuan yang minta mahar sedikit atau terima dinikahi dengan mahar yang sedikit berarti harga dirinya rendah? Duh.. 😕

Lalu apa kabar dengan putri Rasulullah saw, Fatimah, yang dinikahkan hanya dengan mahar dari penggadaian baju zirah Ali? 😯

Hayo looo..

Kekasih Allah aja memudahkan mahar Ali terhadap putrinya. Masa kita yang manusia biasa – yang bermandikan dosa –  justru mempersulit?

Neng, mahar memang hak mempelai wanita. Tapi seharusnya jangan sampai membuat kita lupa bahwa:

”Sebaik – baik perempuan adalah yang paling murah maharnya.” (HR. Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad)

Mari jangan mempersulit mereka yang hendak menghidupkan sunnah Nabi 😊

 

Image
0

Anu.. Romawi Belok Mana, ya?

Di Istanbul ini banyak banget situs bersejarahnya. Seringnya, pak bos mendikotomikan sebagai Osmanlı atau Bizans. “Bu Osmanlı.. O Bizans..” Ini dari masa Ottoman.. Itu dari masa Bizantium. Cuap-cuap sendiri, mungkin sedang berusaha mengenang moyangnya 😌

Kadang ane sahutin. Seringnya sih ane liatin, objek mana yang barusan disebutnya sebagai ‘kepunyaan’ Kesultanan Ottoman atau Kekaisaran Bizantium.

Suatu hari, ditengah-tengah cuapannya pak bos, ane gatel juga ingin melegakan rasa yang mengganjal di otak #otakjugapunyaperasaan 😀 Ane sela dengan pertanyaan, “Roma İmparatorluğu mu?”, ketika pak bos kembali mengkategorikan suatu situs dari masa Bizantium. Arti dari pertanyaan ane adalah ‘apakah dari masa Kekaisaran Romawi?’. Sedangkan maksudnya yakni ane pengen memastikan ‘apakah yang disebut pak bos sebagai Bizantium sama dengan Romawi?’.

Yah, itulah yang mengganjal ane – Kekaisaran Bizantium samakah dengan Kekaisaran Romawi? 

Sama. Hanya saja terdapat perbedaan nama berdasarkan konteks waktu. Nama Kekaisaran Romawi digunakan pada masa antikuitas akhir. Disebut sebagai Romawi Timur dalam konteks masa dimana Kekaisaran Romawi masih satu namun dikelola dengan sistem Romawi Barat dan Romawi Timur. Dan nama Kekaisaran Bizantium digunakan pada abad pertengahan

Sedikit penjesan, Bizantium merupakan nama terdahulu dari Konstantinopel – pusat pemerintahan Romawi Timur setelah Kaisar Constantine I memindahkannya dari Nikomedia di tahun 324M. Penduduknya sendiri lebih mengenal kekaisaran tersebut sebagai Romawi. Adalah Hieronymus Wolf yang pertama kali mempopulerkan nama Kekaisaran Bizantium di tahun 1557 melalui karyanya Corpus Historiae Byzantinae. Selepas itu nama Kekaisaran Bizantium pun lebih terkenal di dunia barat. 

Hagia Sophia: gereja peninggalan Kekaisaran Romawi yang kemudian diubah menjadi masjid pada masa Kesultanan Ottoman, sekarang museum

Perbedaan penyebutan nama ini sempat membuat ane dan pak bos hilang sinyal. Frekuensi antara kami mendadak jadi berbeda 😞 Padahal sebenarnya pihak yang dimaksud sama. Mungkin selama ini pak bos kebarat-baratan. Sedangkan ane yang old school lebih suka dengan nama Kekaisaran Romawi. Bisa jadi dulunya ane adalah penduduk Romawi 😱

“Ndak mungkin penduduk Romawi tuh kuprus kayak sampean.”

😢

Apa yang ane tulis adalah versi singkat dan garis besarnya aja. Kalau mau lebih detail, ada beberapa forum diskusinya dalam bahasa Inggris (maapkeun, gak nemu yang bahasa Indonesia). Monggo..

“Ghulibatirrûm.”

(QS. Ar-Rum: 2)

Image
0

Hagia Sophia dan O.D. Agama

Halo, ane habis menjalankan hobi aneh ane yang lainnya – stalking IG selebgram. Iya sih gak berguna, boros kuota, dan buang-buang waktu 😗 Ane lakukan demi mencari seonggok inspirasi untuk menulis dan untuk hidup. 

“Minta inspirasinya, Pak, Bu.. Dari kemarin saya belum makan..” 😢

Lalu apa yang ane dapatkan hari ini? Ane mampir ke salah satu IG selebgram yang lagi liburan ke Turki. “Wah, Turki nih..”, pikir ane pada awalnya (maaf, udah tinggal dimari tapi masih kampungan 😂). Seperti biasa, yang bikin ane betah lama-lama stalking – dari hal yang penting sampai gak penting – adalah komentar para komentatornya 😀 Kebetulan si selebgram posting foto dia yang lagi di Hagia Sophia. 

Bunda Maria di tengah lafadz Allah SWT dan Muhammad SAW

Ane gak pasang foto dari IG dia. Nanti ketauan dong siapa yang lagi ane omongin 😅 Maapin, yak! Tapi venue-nya sama persis, ya pas di sisi Hagia Sophia yang itu. Dan komentarnya bikin alis ane goyang sendiri 😱

Ini khusus yang tetiba pada ribut soal agama. Padahal fotonya biasa aja dan caption-nya juga gak mengundang provokasi. Menurut ane, sih. Eh, bukan karna ane ateis ya. Mungkin karna daya ledak ane ringan 😆

Ane justru bangga dan berbahagia ketika semua penduduk Indonesia beragama, selalu menyertakan Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya – dan untuk hal ini ane yakin kita jauh lebih baik daripada barat sono. Sayangnya, dalam beberapa kasus banyak yang sepertinya overdosis agama. 

“Orang ngomongin agama kok ndak suka to, mbakyu?”

Eits, tunggu dulu! Sekali lagi ane bukan ateis, lo. Dan ane bukannya gak suka kalau ada yang ngomongin agama. 

Overdosis menurut KBBI merupakan ukuran (obat dan sebagainya) yang berlebihan. Dalam hal beragama 11 – 12 dengan obat. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan – agama untuk kesembuhan rohani, obat untuk kesembuhan raga. Diberikan sesuai dengan penyakitnya setelah didiagnosa. Keduanya sama-sama bisa meracuni ketika dosis yang dipakai tidak pas, berlebihan! Bedanya adalah agama diberikan oleh Allah melalui rasul-Nya dan yang pasti gak mungkin salah diagnosa. Jadi cara ‘pemakaian’ agama tergantung dari penganutnya. Kalau ada yang overdosis ya itu berarti orang tersebut yang salah pemahamannya berikut penerapannya, bukan karna ajaran agamanya yang kelewat fanatik. 

Ane pernah baca kalau salah satu penyebab orang overdosis agama adalah karena kurangnya pengetahuan terhadap agama. Lalu ada apa dengan orang-orang yang mendadak pada ribut bawa-bawa agama – dan beradu dengan pemeluk agama lain – hanya karna lihat foto Hagia Sophia itu? #nahlo 😱 

Yang paling lucu bagi ane, salah satu komentar bilang kalau kiamat sudah dekat diikuti dengan tag ke temannya. Komentar ini pun bikin penganut agama lain jadi salah paham dengan dia. Terlebih lagi ybs mengenakan atribut keagamaan di fotonya. Eh, ternyata ybs gak tau sejarah penaklukan Konstantinopel yang sudah jauh-jauh hari diberitakan oleh Rasulullah SAW dan ujungnya juga gak tau tentang Hagia Sophia apalagi Muhammad Al-Fatih 😢 Alhamdulillah, dia berjiwa besar mau mengakui kesalahannya dalam berkomentar plus ketidaktahuannya.

Ane nulis begini bukan karna ane orang suci (seperti kata anak-anak alay yang ketika dinasehatin selalu balik nanya, “Emang kamu suci?” – maaf ya dek nama ane bukan Suci 😛), bukan pula karna ilmu agama ane sempurna. Ane juga beragama dan sering merasakan bagaimana rasanya ketika hasrat untuk mati-matian membela apa yang kita anut itu muncul. Tapi kita beragama supaya sembuh dari penyakit-penyakit rohaniah, bukan untuk keblinger karna ketidaksesuaian dalam pemahaman dan penerapannya sebab kurangnya ilmu kita. Apalagi sampai menimbulkan perpecahan ke internal dan eksternal. Waduh! 😭 

Agama salah satu hal tersensitif di dunia. Manusia bisa tiba-tiba mendeklarasikan perang ketika agama mereka diuprek-uprek. Maka jika ingin membela, belalah dengan ilmu. Jika ingin berkomentar, berkomentarlah dengan ilmu. Kalau gak tau, diam dan belajarlah. Kalau gak mau diam, bertanyalah atau berdiskusilah. Jangan berdebat mancing emosi walaupun sekedar di dunia maya. Efeknya justru bisa lebih luas karna semua orang bisa mengakses dan melihat 😊 

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa Allah menurunkan perintah iqra’ (bacalah) kepada Rasulullah SAW sebagai wahyu pertama. Kelihatannya sederhana, bacalah. Tapi ternyata ini bisa menyelamatkan dari kesesatan hingga perpecahan antarmanusia. Menyelamatkan dari overdosis dalam beragama.

Aduh, jadi terharu.. Kurang lebihnya itulah yang mau ane ungkapkan. Semoga bisa ditangkap maksudnya. Kalau ada salah-salah serta perasaan tidak berkenan, maapin ya 👼 Ane gak ada niatan untuk menyakiti, memojokkan, maupun menginjak-injak pihak tertentu. Karna kita sesama manusia ciptaan-Nya – bukan samsak untuk dipukuli, bukan batu sandungan untuk dipojokkan, dan juga bukan karpet untuk diinjak. Mari kita sama-sama saling menjaga supaya tidak terjebak dalam lingkaran khilaf berjamaah dan dari labeling kurang piknik sebab ketidaktahuan kita. 

Quote original dari ane sebagai penutup (ane juga punya quote, wee 😛):

“Dalam kehidupan nyata kita tidak bisa terus-menerus berpiknik untuk mengetahui berbagai hal tapi kita bisa belajar dan membaca setiap saat, seumur hidup.”

-azb