Image
0

Istanbul Archeology Museums

Situs: Istanbul Archeology Museums/İstanbul Arkeoloji Müzeleri

Lokasi: Istanbul

Hari dan Jam Operasional: Pukul 09.00 – 19.00 di musim panas dan pukul 09.00 – 17.00 di musim dingin, hari Senin libur

Harga Tiket: 20TL

Müzekart/Museum Pass: Berlaku

Website: http://www.muze.gov.tr/tr/muzeler/istanbul-arkeoloji-muzeleri

Continue reading

Image
0

Hagia Sophia: Portfolio of A Dream

Perhaps not in Fatih’s way of dreaming

But same as him, I also longing for this place

Where my hope started to flow

In a land which in the name of love I feel it

-azb


♥ The Beauty Outside

February 14, 2016

February 14, 2016

February 14, 2016

August 13, 2016

August 20, 2016


♥ The Beauty Inside 

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

Image
1

Galata Mawlavi House Museum

Situs: Galata Mawlavi House Museum/Galata Mevlevihanesi Müzesi

Lokasi: Istanbul

Hari dan Jam Operasional: Setiap hari kecuali Senin, pukul 09.30 – 17.00

Harga Tiket: 10TL

Müzekart/Museum Pass: Berlaku

Website: http://www.galatamevlevihanesimuzesi.gov.tr

***

Sejak berkunjung ke Mevlana Müzesi di Konya tahun 2014 lalu, ane penasaran dengan sufi. Setelah kembali lagi ke Turki taun lalu, harapan ane buat ke sana lagi belum bisa direalisasikan 😞 Tapi ternyata di Istanbul juga ada 😄 Ane dan pak bos pun langsung ke sana sore-sore di hari Minggu lalu. 

Mevlana Müzesi di Konya (konya.neredekal.com)


Kami berharap bisa nonton tari sufi dulu sebelum keliling museum. Jadwalnya setiap hari Minggu jam 17.00 dan pembelian tiketnya ditutup jam 16.00. Tiket buat nonton tari sufi ini terpisah sama tiket museum – harganya 50TL dan gak bisa pakai Müzekart atau Museum Pass. 

Sayangnya pasca percobaan kudeta tanggal 15 Juli kemarin, tari sufi ditunda dulu dan baru ada lagi nanti bulan September (ini kata mbak-mbak ticketing-nya). Ane dan pak bos pun gagal nonton tari sufi. Sedih juga karna waktu ke Mevlana Müzesi ane juga gak bisa nonton karna dateng pas bukan weekend 😭 Kenapa weekend? Denger-denger dari temen sih karna para penari sufi ini juga berprofesi sebagai dokter, guru, dsb. 

Akhirnya kami cuma dapet jalan ke museumnya. 

Bangunannya tingkat tiga dan merupakan Mevlevihanesi yang pertama di Istanbul. Mevlevihanesi itu apa? Kalau dibahasa Indonesiakan artinya pondok sufi tarikat mawlawi (mereka adalah pengikut Maulana Jalaluddin Rumi).

Galata Mevlevihanesi dibangun tahun 1491 pada masa pemerintahan Sultan Beyazid II. Mengalami restorasi berkali-kali tapi masih bisa diliat jejak bangunan aslinya berupa kayu-kayu di dinding maupun lantainya yang sekarang dilindungi dengan kaca tebal 😊

Mulai dari lantai dasar, isinya perkenalan tentang kehidupan sufi di Turki. Mulai dari dapur, ruang ibadah, sampai pakaian yang digunakan untuk tari sufi. 

pakaian untuk tari sufi

ijazah di ruang literatur

Foto-fotonya gak diambil secara sembunyi-sembunyi, yah. Memang ane suka foto-foto situs atau objek sejarah tapi dengan tetap menghargai larangan yang ada. Dan kebetulan di sana dilarang untuk motret. 

Kami baru berani motret setelah tanya ke security-nya. Berhubung dijawab boleh asalkan gak pakai flash maka ane ambil beberapa foto. Cuma ane gak akan posting semua hasil jepretannya kemari. Biar pada penasaran 😀 Niatan ane sekedar untuk membantu supaya Galata Mevlevihanesi lebih terekspose ke publik (ingat setelah beberapa bulan ane baru tau tempat ini eksis). 

Ayo lanjut ke lantai dua! Di sana ada semahane atau tempat untuk melakukan tari sufi.

semahane di Galata Mevlevihanesi

Ane ngerasa ada semacam hawa mistis waktu di semahane. Bukan mistis dalam artian yang berkaitan dengan makhluk astral, melainkan mistis secara spiritual keagamaan. Entahlah pak bos merasakannya juga atau enggak. Dengan mengingat bahwa tari sufi ini adalah cara mereka untuk berdzikir, jadi tari sufi bukan sekedar pertunjukan biasa. Wajar kalau di sana tercipta hawa-hawa spiritual yang kuat. 

Nah, kalau mau lihat-lihat hasil seni mereka naiklah ke lantai tiga. Ada ebru (seni melukis di atas air), kaligrafi, plus Pysyoghnomy of the Prophet. Untuk yang terakhir ane sebut, ane masih belum paham maksudnya apa. Bentuknya kayak transkrip dan dilindungi sama garis pembatas. Ane jadi gak bisa deket-deket liatnya 😢

penjelasan mengenai Pysyoghnomy of the Prophet

Kelupaan di awal.. Masuk Galata Mevlevihanesi gak lewat pemeriksaan xray. Barang bawaan tetap dicek sama security. Kebetulan waktu itu security-nya bahasanya sopan sekali. Pak bos sampai pekewuh saking sopannya itu abang-abang security 😂 *alhamdulillah, ketemu orang sopan*. Eh, bukan berarti security di sini pada gak sopan ya. Kami terkesan aja sama yang satu ini 😊 

Jadi begitulah hasil kunjungan kami. Maaf karna gak bisa terlalu banyak menjelaskan tentang sufism – gak kompeten. Dulu pernah sempat baca-baca dan ngobrol dengan salah satu pengikutnya. Sayangnya pemahaman ane gak sampai 😞 

Pokoknya harus kemari kalau ada rejeki ke Turki!

Image
0

Istanbul Museum of History of Islamic Science and Technology 

Situs: Istanbul Museum of History of Islamic Science Technology/İslam Bilim ve Teknoloji Tarihi Müzesi 

Lokasi: Istanbul 

Hari dan Jam Operasional: Setiap hari (kecuali Selasa) pukul 09.00 – 16.30

Harga Tiket: 10TL

Müzekart/Museum Pass: Berlaku

Website: http://www.ibttm.org

***

Ceritanya jalan ke museum biar keliatan berkelas 😂 Aslinya paham gak paham juga sama isinya 😛 Ah, sudahlah.. Selagi masih pegang Müzekart, mari dimanfaatkan saja. Setidaknya bisa berbagi apa yang pernah dilihat kemari 😊

Museum ini posisinya ada di dalam Gülhane Park (taman Istana Topkapı). Kudu jalan agak ke dalam taman buat sampai ke ini museum 😋 Gak sulit buat ditemuin, sih. Tinggal jalan aja lurus ke dalam taman sampai ketemu cafe di sisi kiri. Nah, bangunan setelah cafe itu ya si museum ini. Cuma karna gak ada papan penunjuknya – entah gak ada atau ane yang gak liat – museum jadi ‘kurang kasat mata’. Kalau cafe-nya, sih, ada penunjuknya. 

Sesuai namanya, isinya tentang perkembangan pengetahuan dan teknologi di masa Islam terdahulu. Kesan pertama waktu liat gedungnya dari luar: monoton. Kontras sama cafe yang ada di sebelahnya – penuh orang dan ‘hidup’. Ditambah cuaca lagi panas-panasnya jadi keliatan gersang juga 🍂 Duh..

Tapi jangan ngacir dulu! 🐙

“Kenali adek dari dalam, mas. Jangan dari apa yang mas lihat di luar.” 😀

Mari kita dekati museum ini. 

Begitu masuk, suasananya beda. Sendu-sendu gimana gitu 😳 Dan adem juga. Ngikutin kata mbak-mbak bagian ticketing-nya, ane dan pak bos naik ke lantai dua. Mulai menjelajah dari lantai atas. 

Yang kami lihat pertama adalah mini theater. Nemu kursi empuk pada berjejer, ane langsung ambil tempat – mantengin layar yang berusaha dengan usaha terbaiknya untuk menjelaskan secara general tentang isi museum. Ane ngetem di sana agak lamaan demi menghargai si layar 😘 *padahal niat aslinya cuma kepengen duduk*. 

Show room di museum ini sendiri dibagi per subjek. Setelah mini theater, ada astronomi. Isinya alat untuk menghitung perbintangan, globe perbintangan, jam matahari, dsb. 

(atas) mesin kalender matahari dan bulan; (bawah) jam matahari

Maapin kalau bahasanya seadanya, yak 😅 Selain karna ane gak hafal alat-alat itu namanya apa aja, kasian kalau ada yang pengen tau juga tapi gagal paham karna istilah yang ane pakai ‘berat’. Beraaattt.. 😰

Ane juga gak ambil banyak foto. Pak bos udah uring-uringan liat istrinya jepret sana-sini sejak kita masih di sekitaran Hagia Sophia. Mungkin merasa dianggurin *cie yang dianggurin aja* 😂 Maaf, itu poin pertama. Kedua, ane pikir di sini sama kayak Topkapı Sarayı yang melarang objek buat difoto. Jadilah ane liat-liat sambil ngempet pikiran, “Boleh difoto gak, ya?” 

Tiba-tiba, security yang lagi jaga di bagian astronomi bilang ke pak bos kalau objek boleh difoto. Ngeri juga ane dibuatnya. Di samping doi barusan bertingkah layaknya mind reader, ekspresinya juga aneh. Dari kejauhan ngeliatin kami macem adegan di film-film psiko. Tapi liat tasbih ada di tangannya, ane mulai ngerasa kalau ada yang gak beres. Dan bener. Begitu ane liat ke kaca, muka ane muka orang kebelet. Udah mbladus, kebelet (pengen motret) pula. Bisa jadi selama itu si security sedang baca doa pengusir jin 😢

Oke, itu pelajaran aja supaya sebelum menilai ada yang salah dengan orang lain, liat muka sendiri dulu – mbladus kagak? 😗

Lanjut lagi ke museum, ada jam segede gaban yang awalnya ane pikir sebagai photo box 😅 Ternyata itu replika jam air dari Fez (kota di Maroko) yang dibuat tahun 1362. Ini dia jamnya:

(atas) jam secara keseluruhan; (bawah) mesin jam

Selepas astronomi, kami jalan ke bagian teknologi perang. Isinya miniatur alat-alat yang digunakan untuk perang di jaman behula.  

counterweight trebuchet

(atas) windless crossbow; (bawah) large triple crossbow

alat pendobrak benteng dan benteng yang didobraknya

Kalau liat miniaturnya, sih, keliatan menggemaskan. Tapi ane gak bisa bayangin ada di tengah-tengah peperangan dengan peralatan macem itu. Kalau jaman sekarang? Denger suara F16 terbang rendah aja ane udah ngeden kemana-mana *efek tanggal 15* 😞 Lalu apa kabar saudara kita yang ada di Palestina, Suriah, dan negara lain yang sedang berperang sekarang? 😭 Ingat nasehat eyang Sun Tzu, “Tidak ada kedamaian yang dihasilkan oleh perang yang berkelanjutan..” 

Mari lepaskan peperangan. Kita obati setiap luka yang ada 😄 Yuk, intip bagian kedokterannya..

(bawah) peralatan medis ginekologi

“Kok tambah ngeri, mbok?” 😭

Ane terdiam waktu liat alat-alat itu. Ane kagak ngibul biar keliatan dramatis (maaf, udah pakai mascara Maybell*ne). Sesungguhnya, ane ini termasuk orang yang mendadak gagu kalau ketemu dokter serta penyandang miopi. Dan foto yang di atas – yang mirip miniatur peralatan nyawah – dipakai untuk penanganan medis terhadap mata 😲 Itu kalau ane gak salah inget, sih 😅

Masih ada show room untuk bebatuan alam, geografi, kimia, fisika, arsitektur, dsb di lantai bawah. Semuanya punya pesonanya tersendiri #cieee. Tapi menurut ane, tiga subjek yang ane jabarin – dengan absurd – di atas dan bela-belain buat jepretin fotonya adalah yang paling menarik. 

Tambahan, waktu ke sana gak ada pengunjung selain ane dan pak bos. Baru setelahnya datang dua pasang turis suami istri yang kalau diliat dari mukanya sih orang Arab. Entah karna hari Sabtu itu kebetulan sepi atau memang orang-orang kurang berminat untuk ke museum. Padahal sayang banget kalau kita sekedar ‘hidup di jaman ini’. 

Akhir kata, museum bukan hanya tempat bagi mereka yang gagal move on tapi juga bagi para pembelajar. Berharap sebelum akhir jaman yang terlalu akhir, museum – dan juga tempat ibadah – akan penuh layaknya kafe meong 😊 

Sebagai kenang-kenangan karna sudah mampir: 

pembuat döner yang dirancang berdasarkan ilustrasi dan deskripsi dari buku ilmuan Ottoman Taqi al-Din tahun 1546

Image
0

Kartu Turis Kemana Saja

Di cuap-cuap sebelumnya ane nyinggung tentang Müzekart (baca: Yerebatan Sarnıcı). Sekarang pertapaan ane sudah selesai. Waktunya buat endorse itu si Müzekart 😁 

Müze berarti museum sedangkan kart berarti kartu. Singkatnya, Müzekart adalah kartu buat masuk museum. Panjangnya, gak cuma buat museum aja tapi juga beberapa destinasi kultural lainnya plus diskon buat masuk ke tempat tertentu.

Gimana, udah deg-degan belum denger kata diskon? 😍

Karna si Müzekart ini harus dibeli dan tidak bisa didapatkan dengan main lotre, jadilah ane dan pak bos harus menabung *loh, jare endorse* 😅 Itulah sebabnya ane kudu nunggu dulu selama beberapa bulan, selain karna nunggu datangnya musim panas ☀

Jenis kartunya ada dua. Müzekart+ yang warnanya merah, 50TL. Kalau beli yang ini bisa dipakai keluar masuk museum di seluruh penjuru Turki sepuasnya selama setahun. Satunya adalah Müzekart biasa tanpa +. Warna kartunya biru dan harganya 40TL. Yang ini cuma bisa masuk 2x ke museum yang sama. Buat emak-emak macem ane, harganya lumayan juga 😌 Soalnya duit segitu lebih mahal daripada tagihan air atau gas di rumah tangga kami 😭 Tapi dengan mempertimbangkan opportunity cost, kami dengan mengucap bismillah pilih yang +.

biar bisa puas pusing-pusing

Ada fotonya, yak. Identitasnya juga ada. Jadi ndak bisa dibuat barengan satu kampung 😮

Tapi nganu, Müzekart ini cuma ditujukan untuk turis domestik (WNT) serta orang asing pemegang ikamet. Tulisan diatas sebenarnya gak bermanfaat secara fungsi untuk turis internasional. 

“Jadi dari tadi kita ngapain, mak?!”

“Intermezzo, ajah. Sekalian mak mau pamer Müzekart punya mak 😂”

“…”

Buat turis internasional, namanya Museum Pass. Harga, ketentuan, dan penampilan fisiknya beda sama Müzekart 😅 Pastinya lebih terbatas dibandingkan dengan Müzekart+ dan Müzekart. Gampangnya begini:

  1. Harga 85TL
  2. Masa berlaku 5 hari terhitung sejak hari pertama pemakaian kartu
  3. Situs yang bisa dikunjungi terbatas tapi tetap dapat diskon untuk ke tempat tertentu (daftarnya bisa dicek dimari About Museum Pass)

Untungnya pakai Museum Pass adalah harga tiket jadi lebih murah dibandingkan harus beli satu-satu di tiap situs dan lebih praktis. Contohnya waktu ane ke Hagia Sophia. Harga tiket tanpa Müzekart atau Museum Pass 40TL. Antrian masuknya pun beda antara yang pegang kartu dan yang gak punya. Mereka yang gak punya kudu ngantri panjang di bagian ticketing, panas-panas pula. Syedih 😢 Sedangkan ane dan pak bos tinggal masuk aja setelah nunjukin kartu.

Kekurangannya ada, gak? Jatuhnya lebih mahal kalau cuma satu sampai tiga situs aja yang dikunjungi selama 5 hari itu. Cuma tergantung juga sama harga tiketnya karna tiap situs harganya bisa beda-beda. Yang pasti kalau punya kartu, gak perlu ngantri 😋

Sama kayak duo Müzekart, belinya nunjukin identitas diri *lagi-lagi gak bisa dipakai buat satu kampung*. Berhubung ane bukan calo kartu Museum Pass, silahkan kembali ke About Museum Pass lagi buat lihat ini kartu bisa dibeli dimana aja 😂

Image
1

Yerebatan Sarnıcı 

Situs: Yerebatan Sarnıcı /Basilica Cistern 

Lokasi: Istanbul

Hari & Jam Operasional: Setiap hari pukul 09.00 – 18.30

Harga Tiket: 20TL

Müzekart/Museum Pass: Tidak berlaku

Website: yerebatan.com 

***

Sejak datang kemari, ane belum kesampaian silaturahmi ke tempat bersejarah. Kebanyakan ngetem di pasar. Meratapi konde yang tak kunjung ketemu 😢 Plus, menunggu pak bos menepati janjinya mendapatkan Müzekart untuk istri tercintah 😗

“Apakah Müzekart itu, mak?” 

“Tunggu postingan selanjutnya, Grandong. Mak mau bertapa dulu.”

Baru-baru ini akhirnya pak bos menepati janjinya. Kami pun cus naik tramvay dan turun di pemberhentian daerah Sultan Ahmet 🚊 Sebagai muslim yang penasaran dengan barang peninggalan Rasulullah dan masa kejayaan islam dulu, destinasi pertama yang dipilih adalah Topkapı Sarayı (Topkapı Palace). Rencananya, Müzekart akan dibeli on the spot di sana 😌

Ane pun ngekor pak bos. Awalnya masih mantep ke Topkapı sebagai tujuan pertama. Tapi tiba-tiba pak bos terhipnotis dan berubah pikiran ketika lihat papan penunjuk bertuliskan Yerebatan Sarnıcı. Jadilah kami berjamaah mampir ke sana dulu.

Masuknya bayar 20TL untuk turis. 10TL untuk WNT dan orang asing pemegang ikamet (kartu izin tinggal). Müzekart gak bisa dipakai di sini. Berhubung belum punya Müzekart, hati pun ikhlas bayar 10TL 😄 Begitu punya, “Kenapa gak bisa pakai Müzekart coba?!”

Yerebatan Sarnıcı ini punya nama internasional Basilica Cistern. Dan nama aliasnya adalah ‘The Sunken Palace’ karna tempatnya memang di bawah tanah, deket sama Hagia Sophia. Dibangun oleh Kaisar Romawi Justinianus I pada tahun 532M, fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan air.

“Lah.. Gorong-gorong dong, mak?”

“Beda, Grandong 😒 Kalau gorong-gorong itu lubang yang dipakai buat pembuangan air, biasanya ada di bawah jalan.”

Seperti umumnya tempat wisata di Istanbul, kami kudu ngelewatin xray dulu sebelum nengokin si Yerebatan Sarnıcı. Tapi karna ane lagi berbadan dua, cuma pak bos yang lewat xray sementara ane kudu rela ‘disentuh-sentuh’ sama security 😂 Security-nya perempuan, kok. Dan satu-satunya bom yang ane bawa adalah kentut, itu pun pasif 😗

Ane lolos pemeriksaan dan menapaki tangga marmer turun ke bawah. Ada yang agak gimana gitu waktu di tangga. Di sana dipasang papan larangan yang salah satunya adalah foto. Mulanya ane kira gak boleh foto-foto selama di situs. Ternyata maksudnya gak boleh foto di tangga. Semoga tujuannya bukan untuk menyindir korps alay internasional. Ane bisa-bisa sakit hati 😭

Berdasar keterangan yang ane baca, jumlah anak tangganya ada 55 (entah ada apa dengan jumlah itu karna gak ada penjelasan lebih lanjut dan ane cari juga gak ketemu) 😮 Masa Kekaisaran Romawi, Yerebatan ini difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air istana dan penduduk di sekitarnya. Masuk masa Kesultanan Ottoman, dipakai untuk pengairan Istana Topkapı.

Sebelum keliling, kalau mau ente bisa foto-foto pakai kostum ala ala Ottoman. Ada stand-nya yang bisa langsung keliatan begitu masuk situs. Bayarnya 20TL seinget ane tapi gak tau dapet berapa kali jepret. Kami gak mampir soalnya udah punya foto model begituan walaupun view-nya bagus sebenernya 😕

Tempatnya remang-remang, ya. Jadi hati-hati kalau kemari biar gak kepleset atau tergoda untuk melakukan hal yang enggak-enggak, kentut contohnya 😂 Serius, karna ini di bawah tanah sehingga sirkulasi udaranya kurang oke, kalau ente kentut baunya.. Ah, sudahlah. 

Nah, kalau ente takut kepleset, lantai batu si Yerebatan ini katanya sudah dipertebal dengan campuran plester Khorasan. Itu apa, ane juga kurang tau. Hasil browsing ane menyebutkan kalau Khorasan merupakan istilah modern untuk menyebut wilayah timur Persia kuno. Mungkin bahannya diimpor dari Khorasan maksudnya (?). Kalau ada yang tau, boleh dong dibagi informasinya. Ane penasaran 😀

sisi pertama yang ane lihat

Total ada 336 pilar marmer yang menyangga Yerebatan Sarnıcı. Tingginya masing-masing 9m. Mereka berbagi beban atap dengan cara seperti ini:

yerebatan.com

Si Yerebatan ini bisa nampung sampai 100.000 ton air. Ane gak tau dan gak ada bayangan 100.000 ton air itu penampakannya kayak apa. Karna ane gak ngukur sendiri dan sekedar sadur dari brosurnya 😅 

Masih menurut si brosur, bagian Yerebatan yang paling menarik pengunjung adalah patung kepala Medusa. Ada dua patung kepala Medusa yang dipakai sebagai alas pilar. Dua-duanya dipasang secara terbalik. Kenapa terbalik? Berangkat dari mitologi kalau siapapun yang ngelihat si Medusa akan berubah jadi batu makanya dipasang terbalik untuk menangkal sihir doi. 

buat tolak bala

Ane sendiri justru tertarik sama ikan-ikan yang mondok di sana. Ikannya gede-gede, entah jenis ikan apa. Mereka ngumpul di tempat yang ada cahayanya (beberapa bagian di Yerebatan gak dikasih penerangan). Kayaknya sih emang sengaja cuma ditempatin di bawah pencahayaan, bukan karna yang di tempat gelap gak keliatan. 

bukan ikan cetul

Pak bos yang hobi mancing pun mengamati dengan terpukau ikan-ikan itu. Apakah boleh dipancing? Gak tau. Kami gak coba tanya ke petugasnya 😰 

Oya, di dasar air ada koin-koin yang berkilauan. Tebakan ane sih itu duit receh. Gak tau kenapa pada ngelempar ke sana. Mungkin semacam make a wish (?). Bisa jadi. Tapi ane dan pak bos gak ngelempar. Kasihan si ikan kalau kepalanya ketiban koin. Lagian lumayan juga duitnya buat nambah-nambahin beli mini kuper 🚗 #bolehbermimpi

Di penghujung, ada cafe seandainya ente laper atau haus. Lokasinya di bawah tangga keluar. Monggo ke sana, makan sambil duduk-duduk menikmati syahdunya suasana di Yerebatan Sarnıcı 🌹