Posting Foto Makanan di Media Sosial

Semalam kami nonton film India Kaakkaa Muttai (The Crow’s Egg). Kisah tentang kakak beradik yang hidup di daerah kumuh. Suatu hari mereka lihat

iklan pizza di TV. Iklan biasa aja bagi kita yang mampu meraih pizza tapi bagi kakak beradik ini yang hidup di bawah garis kemiskinan, seumur-umur mereka belum pernah makan pizza. Lihat iklannya sampai terhipnotis gitu 😢 Kebetulan setelah lihat iklan, mereka ketemu sama abang-abang pengantar pizza yang nyasar di daerah mereka. Dari situ, kakak beradik ini berniat nabung demi pizza. Harga seporsi pizza 300 rupee. Sedangkan penghasilan mereka dari ngumpulin batu bara cuma 10 rupee per hari. Jalan ceritanya sederhana tapi menyentuh dan.. real .

recommend, sumber: Every Film

Setelah nonton film ini, ane semakin meyakini kebenaran dari permintaan pak bos supaya ane berhenti upload foto makanan baik yang dimasak sendiri apalagi dari resto. Pak bos bahkan terang-terangan bilang kalau gak suka dengan hobi ane yang satu itu. Alasannya, “Gimana kalau ada orang gak mampu yang liat postingan makananmu?”.

Secara ane bukan bakul makanan (dengan kepentingan promosi demi mencari nafkah) dan bukan pula dari golongan orang-orang yang berkepentingan dengan foto makanan (resep, tips, inspirasi, fotografer makanan contohnya). Jujur, ane upload sekedar untuk pamer 😞 Mungkin karena itu setiap upload foto makanan ane gak kepikiran gimana perasaan orang gak mampu kalau liat postingan makanan ane. Astaghfirullah 😣 Padahal ane kalau liat temen-temen posting makanan nusantara aja bersedih hati karena kepengen tapi gak bisa masaknya atau harus nunggu dulu kalau pesen apalagi kalau pesanannya diantar via kurir bisa sampai berhari-hari.

Gak bisa langsung menikmati aja sedih. Gimana kalau kepengin, makanannya bisa dipesan, tapi gak bisa menikmati karna keterbatasan biaya?

“Dari Ikrimah, Ibnu Abbas mengatakan,“Sesungguhnya Nabi melarang untuk memakan makanan yang dimasak oleh dua orang yang berlomba” (HR Abu Daud)

Ulama menafsirkan hadits ini yaitu dua orang yang berlomba dalam menjamu tamu dengan maksud agar yang satu dapat mengalahkan yang lain, dengan tujuan ria (inggin dipuji) disanjung dan pamer.

Kasus diatas memang bukan perlombaannya karena tidak relevan dengan zaman saat ini. Dan meski tidak ada dalil dan larangan terkait memposting makanan ke media sosial, melainkan dampaknya itu sendiri, yaitu ria, pamer dan ingin dipuji.

Sumber: islamilenia

Semoga ke depannya bisa lebih bijak lagi dalam bersosial media 🙏 Lebih baik berbagi makanannya secara nyata daripada sekedar posting di media sosial, ye kan? #bagiinsiomaydong

Advertisements

One thought on “Posting Foto Makanan di Media Sosial

  1. Iya aku jg skrg silent viewer aja sih di IG. Abisan bingung mo posting apa. Mo posting makanan, ntr kuatir ofensif or apalah. Posting poto anak jg ga dibolehin ama suami. Mau jualan jg males di IG.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s