Komposisi Pernikahan ala Turka: Merajut

Beberapa bulan ini social media ane yang aktif cuma Instagram. Sisanya, seperti Facebook hanya ditengok kala-kala. Blog pun udah lebih dari setengah tahun terbengkalai. Ane disibukkan oleh job baru ane sebagai

penabuh gendang dari band yang sebelum konser kudu gorok leher kuda nil dulu perajut. Perajut cinta, tsahh..

Di bumi Turki, mayoritas perempuannya menguasai ilmu main benang ini. Ane sendiri belum pernah ketemu perempuan Turki yang ndak bisa ngerajut. Kalaupun mereka gak suka ngerajut, kemungkinan besar tetap tau ilmunya. Mau pekerjaannya prestige semacam dokter pun, mereka tetap bersentuhan dengan rajut merajut.

Oke, kenapa mereka berperilaku seperti itu? Apakah mereka butuh kehangatan ekstra? Haha.. kehangatan dia kate.

Jadi sesuai dengan judul postingan kali ini, kegiatan merajut – baik crocheting maupun knitting – di Turki bukan hanya sekedar hobi (bagi penikmatnya) tapi juga merupakan bagian dari kultur mereka. Menikah ala turka bukan hanya tentang emas maupun horon (boleh dibahas kapan-kapan 😗). Adapula yang namanya çeyiz, mencakup perabotan rumah dan juga tetek bengek kerajinan tangan.

Çeyiz berupa kerajinan tangan ini biasanya dibawa dari pihak perempuan. Yang bikin mulai dari si calon pengantin sampai kerabat-kerabatnya. Pembuatannya bahkan ada yang sudah dimulai ketika anak perempuannya masih kecil. Begitu si anak nikah, çeyiz turut diboyong ke rumah pengantin dan akan disediakan satu ruangan yang khusus untuk majang para çeyiz tersebut, namanya çeyiz odası – terbuka bagi tamu undangan. Kan sayang yak, udah bela-belain buat sampai rela gak nonton konsernya Mas Agung Hercules eh gak dipamerin ke tamu 😴

çeyiz odası (sumber: Modern Ev Dekor

Nah, rajutannya mulai dari wearable things kayak shawl, cardigan, dsb sampai home decor. Menurut ente gimana ketika keset sampai toilet covers aja dirajut sama mereka? Serius.

toilet covers hasil rajutan: tanda cinta perempuan Turki pada keluarganya (sumber: maxibayan)

Merajut ini bukan pekerjaan gampang, gengs. Setidaknya ada 3 hal yang dimakan dalam proses pengerjaannya. Pertama, makan waktu. Kedua, makan dana. Dalam pengerjaannya akan butuh lebih dari satu buntel benang rajut. Umumnya berat satu buntel benang rajut lokal di pasaran Turki adalah 100gr dengan harga paling murah 4TL (Rp 14.000). Makin unch unch jenis benangnya,  makin mahal pula harganya. Ketiga, makan ati. Wk, ini kalau hasil rajutannya tidak sesuai harapan dan/atau mengalami kendala yang tak terpecahkan. Sering sekali ane alami sampai bikin kepala nyut-nyutan dan terpaksa nenggak Param*x (eh ada gitu di Turki? 😁). Makanya untuk saat ini ane belum kepikiran untuk ngerajut keset dan kawan-kawannya karna belum kuat hati liat hasil rajutan ane jadi bahan injekan orang 😢

Hasil karya ane #bolehpamer #jangandihujat ✌






Ane sendiri ikutan ngerajut karena tertarik. Hasil rajutan dan benang-benang beraneka warna serta jenis seolah punya medan magnet yang kuat terhadap ane. Bikin candu meskipun terkadang ingin hengkang saja karena gagal menemukan jalan untuk menyelesaikan design rajutan (fyi, ane belajar merajut secara otodidak). Di samping itu, ane punya anak perempuan berdarah separuh Turki dan ber-KTP Turki yang diproyeksikan untuk jadi WNT ketika batas kewarganegaraan gandanya habis. Mengutip kata tetangga yang bela-belain ngerajut dengan warna gelap padahal matanya sudah gak sanggup, “Annelik görevi”. Maksudnya, ini salah satu tugas sebagai ibu. 

Salutlah buat Turkish emaks (?) dengan keahlian mereka yang satu ini 😄👏

Advertisements

7 thoughts on “Komposisi Pernikahan ala Turka: Merajut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s