Cerita dari Tepi Bosphorus 

senja di tepian Bosphorus

Menikmati senja di tepian Bosphorus, lewat seorang bapak tua dengan gerobak kecilnya. Langkahnya tertatih, suaranya parau, berusaha untuk menjajakan durum (makanan khas Turki yang isinya bisa ayam, atau daging, atau çiğköfte dan dibungkus dengan tortilla). Seolah tak kasat mata, si bapak berlalu begitu saja.

Pemandangan tersebut menghadirkan pertanyaan lama yang kerap timbul tenggelam dalam benak: lebih berat menjadi fakir di negeri kaya atau menjadi fakir di negeri miskin?

Sebelum tahun 2014 ane gak pernah tau bahwa bertemu warga fakir di negeri yang lebih maju daripada Indonesia rasanya.. mengoyak. Memang fenomena warga fakir itu bukan spesial milik negara dunia ketiga atau negara berkembang. Dimana-mana ada, termasuk negara adidaya macam Amerika pun punya. Kenyataan yang menyedihkan (?). 

Manusia-manusia yang berusaha masuk ke dalam dunia. Seperti bapak itu yang seharusnya menikmati usia senjanya dalam kehangatan keluarga. Bukannya bersusah payah menawarkan panganan yang mungkin untungnya tak seberapa dibandingkan dengan kesehatannya. 

Ada pula para penyandang disabilitas yang biasanya menjajakan tissue, pena, maupun plester luka. 1TL per itemnya. 

Belum lagi pengungsi Suriah – yang entah bagaimana – di tengah privilege rights yang diberikan pemerintah Turki, mereka justru berakhir sebagai peminta-minta. Tidak semua memang. Tapi cukup menyita perhatian. 

Pernah di musim dingin seorang ibu Suriah dengan 2 anaknya – anak laki-laki berusia sekitar 5 tahunan dan bayi perempuan – duduk di pinggir trotoar meminta-minta. Si anak lelaki hanya mengenakan pakaian seadanya sedangkan si bayi hanya terbalut sehelai selimut usang. Sedih benar rasanya: teringat anak sendiri – membayangkan kalau itu Ayşe – sekaligus memikirkan bagaimana anak-anaknya, terutama si bayi, bisa bertahan di tengah cuaca seperti itu. Ayşe yang tinggal di dalam rumah aja dibuntel macem-macem supaya tetap hangat, sementara si bayi itu.. Belum diapernya, apakah ibunya punya uang untuk membelinya atau si bayi terpaksa harus berjam-jam bertahan dengan diaper kotornya? Ah, gak tega walaupun sekedar membayangkan. Dan mereka bertahan di sana sampai akhir musim gugur tiba. Sekarang entah mereka ada di mana. 

Contoh-contoh itu memang tak bisa mengukuhkan bahwasannya menjadi fakir di negeri kaya lebih berat. Tetapi mereka mengingatkan bahwa di tengah kenyamanan dan kesempatan kita untuk berhura-hura, kenapa masih ada mereka yang kesusahan.

Hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s