Berbadan Dua di Perantauan 

Ceritanya flashback ketika hamil Ayşe. Ane enggak sedang hamil lagi kok 😁

***

 
Liat di film-film waktu si istri kontrol ke obgyn, si suami ikut mendampingi. Bahkan sampai masuk ke ruang persalinan, si suami pun ada sebagai sasaran cakaran maut istri. Romantis euy 😪

Ane juga mau.

Sayangnya enggak kesampaian. 

Dari kontrol sampai melahirkan, ane jabanin di rumah sakit pemerintah. Aturannya: cuma si pasien yang boleh masuk. Bahkan ada yang terang-terangan ngasih peringatan laki-laki dilarang masuk. Heks 😣 Beda cerita sama rumah sakit swasta dimana suami boleh mendampingi.

Alhasil, pak bos hanya bisa jumpa jabang bayinya (via USG) 2 kali. Pertama, waktu kontrol pertama kali. Kedua, waktu liat jenis kelamin si jabang bayi. Sisanya cuma bisa nunggu di luar ruang kontrol.

Maap yee, gak ada maklum buat keterbatasan bahasa Turki 😑 Salah siapa hidup di Turki gak bisa bahasa Turki. Makanya setiap jadwal kontrol, ane antara semangat sama keder. Kepengen banget liat Ayşe tapi gagu ngomong Turki 😢

Akhirnya, kalau ada omongan dokter yang ane gak paham, inilah yang ane lakukan:

♥ Direkam (paling sering ✌)

♥ Telepon pak bos biar dokternya ngomong langsung

♥ Minta ijin ke dokternya untuk memboyong pak bos masuk

“Lah, kalau ditemenin sama bumer/ipar/perempuan juga?”

Pengalaman ane sih, tetep gak boleh masuk cyinnn.. Kudu akting kesurupan dulu kali, baru boleh ada yang dampingin (sebagai pawang) 😔

Kalau kontrol aja gak boleh ditemenin apalagi waktu melahirkan. Masuk ke ruang persalinan gak boleh bawa apa-apa, termasuk HP. Eh, jangan dibayangin masuk ruang ruang bersaling artinya langsung melahirkan ya.. Nunggu pembukaan dari awal sampai akhir ya disonoh. Terputus dari dunia, terserah deh mau ngapain di sana. Salto atau goyang dombret sekalian 🐒

Ketika nyeri makin menjadi, jangan harap ada suara mesra suami bilang, “You can do it, baby.” Boro-boro.. Yang ada suara jeritan emak-emak lainnya. Yaa mau gimana. Judulnya doğumhane – ruang bersalin – tapi pas nunggu persalinan semua pasien ditempatin di situ. Baru kalau udah pembukaan akhir, dibawa ke ruangan yang beneran khusus buat melahirkan.

Hmm.. harus strong kan ya 💪

Mungkin ane akan mengajukan proposal melahirkan di Indonesia untuk anak kedua 😂

Advertisements

2 thoughts on “Berbadan Dua di Perantauan 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s