Nama yang Dipersalahkan

Sebagai homo sapiens yang tinggal di tanah para Padişah, ikamet adalah nyawa bagi ane. Ikamet itu apa? KTP khusus buat WNA yang menetap di Turki. Dari awal ngurus ini ikamet, masalah selalu muncul silih berganti. Penyebabnya karna nama. Padahal ane punya nama juga udah internasional – Amalia, Amelia.. Tapi ah syudahlah.. 😯

Masalah pertama yang muncul adalah karna perbedaan alfabet antara alfabet Indonesia dengan Turki. Kalau di Turki mengenal dan ı, sedangkan di alfabet Indonesia tidak mengenal huruf ı. Huruf ı ini dibaca seperti e dalam kata sEpeda.

Ketika mengisi form pengajuan ikamet, kami bingung harus mencantumkan AMALİA atau AMALIA. Secara ejaan, yang benar ya AMALİA. Tapi karna penulisan nama harus berkiblat ke passport sebagai KTP internasional, nama ane adalah AMALIA – yang kalau dibaca menurut ejaan Turki jadi AMALEA.

“Dih, ribet amat. Kenapa gak ngikut yang sesuai passport aja, mbok?”

Maunya begitu.. Seandainya gak ada surat keterangan dari kedubes Turki di Jakarta yang menerangkan bahwa warganya yang bernama Ahmet telah menikah dengan seonggok WNI bernama AMALİA. Dan itu udah masuk ke dalam sistem kependudukan Turki 😱

Jadi kalau kami lanjutkan untuk mencantumkan sesuai dengan passport, dikhawatirkan akan terjadi kebingungan bahwa si Ahmet dengan nomer penduduk sekian sekian sebenarnya menikah dengan AMALİA atau AMALIA? 😴

Kami pun muter kesana kemari dalam keadaan bingung karna dikejar waktu – ikamet harus di tangan sebelum visa turis berakhir (setelah menikah, ane masuk ke Turki pakai visa turis) 🐙

Pak bos berusaha untuk menghubungi kedubes Turki dan minta supaya nama ane diganti jadi AMALIA – sesuai passport. Tapi pihak kedubes bilang penulisan AMALİA itu syudah benar karena sesuai dengan ejaannya. Jreng jreng.. Pak bos jadi stres dibuatnya sementara istrinya sibuk ngupil 🗿

Penyelesaiannya gimana?

Karna udah muter kemana-mana dan gak ada yang tembus, akhirnya pakai cara lama: relasi. Pak bos nulis dilekçi (petisi) yang intinya minta nama ane di data kependudukan dirubah jadi sesuai passport. Itu dilekçi terus diserahkan secara pribadi ke direktur direktorat kependudukan di daerah asal suami yang kebetulan kawan sejawatnya bapak mertua.

“Etdah.. Kenapa gak dari dulu-dulu sih, mbok?!”

Soalnya kami suka tantangan ✌

Masalah selanjutnya disebabkan karna ketiadaan nama keluarga. Yap, di Indonesia tidak menganut sistem surename sedangkan di Turki menganut sistem tersebut.

Jaman ane bikin ikamet, Göç İdaresi (imigrasi) sebagai pihak pengeluar ikamet minta supaya disertakan keterangan dari KBRI/KJRI perihal nama keluarga. Nama paling belakang ane pun bertransformasi jadi nama keluarga. Semua tenang-tenang saja sampai akhirnya anak pertama kami, Ayşe, lahir..

Kimlik (KTP untuk WNT) mencantumkan nama orangtua. Di kimliknya Ayşe, yang bikin cuma modal lihat kolom name di kimlik ane tanpa lihat kolom surename. Pak bos pun khilaf kelupaan mengkoreksi kalau surename ane itu sebenernya cuma surename jadi-jadian, yang ditulis berdasarkan persyaratan dari Göç İdaresi. Padahal mah, baik di data kependudukan maupun di buku nikah versi Turki, nama ane ditulis lengkap tanpa surename – sesuai aslinya. Jadilah nama mamaknya si Ayşe adalah Amalia Zatalini Kusuma dan bukan Amalia Zatalini Kusuma Putri.

*Amalia Zatalini Kusuma itu syiapahhh??? Ane kagak kenaaalll.. 😱*

Di sisi lain, peraturan untuk mencantumkan nama keluarga dari Göç İdaresi sudah kembali ke peraturan sebelumnya bahwa tidak perlu mencantumkan nama keluarga di ikamet. Jesjestak! Nama ane pun salah (lagi).

Endingnya?

Kimlik Ayşe harus diganti karena kesalahan penulisan nama mamaknya. Jangan bayangin proses gantinya cuma sekedar datang ke kantor kependudukan terus bilang, “Mang, gantiin dong. Ini namanya salah.”

Ngurusnya sampai ke pengadilan.

Sampai ke mahkamah.

Disidang.

Dan hakim yang  memutuskan apakah kimliknya Ayşe perlu diperbaharui atau enggak.

Gondok juga sih. Kami yang ngikutin peraturan, kami juga yang disidang. Tapi ya syudah, mau pegimane lagi. Tukang bubur udeh naik haji.

Saran ane buat para newbie yang sedang berusaha mendapatkan kimlik pertamanya dan mungkin akan menghadapi hal yang sama (semoga aja enggak): kiblatkanlah namamu ke passport!  

Advertisements

2 thoughts on “Nama yang Dipersalahkan

  1. Pingback: Oh Sultan Ahmet!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s