Siksa Dapur 

​*eh, judulnya kok macam majalah yang terkenal dengan kisah azab Illahi-nya ya 😅*

Setelah jadi emak-emak konde gawl, idola ane berpindah dari Kang*n B*nd ke ibu-ibu solehah pintar memasak. Alasannya sederhana: ane gak suka masak. Emang iya sih ane doyan makan. Tapi maunya makan dari tangan orang lain (dimasakin, red) 😗 Jatuhnya selalu lebih lahap makan kalau dimasakin. Maklum, ane punya penyakit psikologis: masak, nyium baunya, malah jadi kehilangan nafsu makan 😰 Elah.. Apakah ada yang begini juga? Kalau ada, ane cuma bisa berpesan: jangan ikut aliran yang gak jelas ya, gengs! 

Karna ane gak suka masak jadi ane termasuk dalam barisan perempuan dengan jargon: istri gak harus suka masak! Dulu waktu jaman masih gadis, ane itungannya jarang sekali masuk ke dapur. Kalau ke dapur bagaikan ngutang sama rentenir – pas beneran kepepet aja 😂 Itu pun yang dimasak kalau enggak indomie ya ikan asin. Sebab masak bikin ane stres 😞 Lebih baik ane nyapu, nyuci piring, atau tidur daripada harus berhadapan dengan masakan. Saking gak suka masak, ane pilih nahan lapar dengan minum susu atau ngemil kerikil 😪 Ya yang terakhir ini kalau pas lagi gak punya duit – jadi gak bisa jajan makanan – atau hari sudah malam – jadi gak ada yang jualan. 

I don’t like to cook but I’ve to! Setelah status berubah jadi emak-emak rumah tangga, ane mulai sering masuk ke dapur. Awalnya sih sekedar nonton pak bos masak makanan Turkinya (untungnya nikah sama WNA adalah skill masak ane yang kacau balau gak terlalu mencolok karna ketutup sama ketidaktahuan ane tentang masak memasak ala turka). Setelah agak dong baru perlahan mulai mengambil alih dapur, masak ini masak itu – campur aduk antara makanan Turki sama makanan Indonesia. Mbah ane pun sampai bilang, “Sekarang kamu berubah, ya. Udah mau pegang masakan.” Yang ane jawab, “Enggak, kok. Cuma pakai sampo, Mbah.” 🙋 Tapi tetep, ane gak suka masak. 

Tolong jangan dihujat. Anda sekalian tidak seharusnya memaksa seseorang yang mencintai Didi Kempot untuk beralih ke Slip Knot 😢 Setiap orang punya passion mereka sendiri. Mereka yang berusaha memenuhi kewajibannya bukan berarti mereka suka apalagi harus suka. Di sisi lain bukan berarti gak ikhlas juga. Sama halnya dengan orang yang bekerja. Belum tentu dia suka bekerja – maunya jadi superhero yang menyelamatkan perempuan cantik – tapi tetap harus kerja karna kewajiban dia untuk menghidupi dirinya dan orang-orang yang ditanggungnya. Orang-orang seperti ini berusaha melawan dan menghadapi ketidaksukaannya akan sesuatu demi mereka yang terkasih. Aduh jadi terharu 😥 Jadi kalau ada IRT yang gak suka masak, jangan diocehin seperti ini: “Aduh, kamu kan ibu rumah tangga. Masa gak suka masak sih? Masa gak bisa masak?” Apalagi sampai dilabeli sebagai IRT yang tidak baik. 

Kalau rasa masakannya gak enak?

Masakan enak itu apa sih? Sebatas persetujuan sekelompok orang tentang selera. Kalau banyak yang satu selera, ya masakannya jadi enak. Kalau sedikit yang satu selera, bukan berarti masakannya jadi gak enak. Peminatnya aja yang kurang 😛 Contohnya orang Indonesia di Turki pasti lebih demen makanan Indonesia. Nah, para penduduk Turki jelas akan bilang kalau masakan Turki lah yang paling sedap. Itulah sebabnya di Turki banyak restoran dengan menu ala turka sedangkan di Indonesia banyak restoran dengan menu ala nusantara. Intinya, semakin banyak yang satu selera maka semakin dianggap enaklah itu masakan – makin populer. Tapi apakah dengan dominannya peminat masakan Turki di Turki akan membuat warga Indonesia di sini menganggap masakan Turki jauh lebih enak daripada masakan Indonesia? Nope 😂

Dalam ranah rumah tangga, lidah penghuni rumah wajib menyesuaikan dengan selera sang ibu #maksa 😛 Ga selayaknya kan bilang ke emak, “Mak, masakannya kagak enak.” Bisa dikutuk jadi pohon tauge kau nanti. Hargailah. Kalau pun gak satu selera maka katakanlah dengan cinta 😄

Pernah ane beberapa kali makan bareng keluarga lain dan si anak dengan entengnya bilang ke mamaknya, “Ini apaan?”, dengan nada mencela. Ane gak bisa bayangin gimana perasaannya si ibu itu. Syedih 😞

Kalau ane ditanya, “Apa sih untungnya jadi IRT yang gak suka masak?”. Ah, kalian pasti gak tau kalau ini bisa mengurangi konflik dengan bumer. Kenapa? Sebab sebagai istri gak perlu saingan sama bumer nyediain makanan buat suami. Ada loh yang begini 😀 Berhubung ane gak demen masak jadinya ane pasrahkan saja ke mertuaaa. Lagian ane juga penganut paham bahwa anak-anak pasti lebih demen masakan ibunya.

Suka masak belum tentu masakannya enak. Gak suka masak, bukan berarti mutlak hasil masakannya tidak layak makan ✌

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s