Kartu Turis Kemana Saja

Di cuap-cuap sebelumnya ane nyinggung tentang Müzekart (baca: Yerebatan Sarnıcı). Sekarang pertapaan ane sudah selesai. Waktunya buat endorse itu si Müzekart 😁 

Müze berarti museum sedangkan kart berarti kartu. Singkatnya, Müzekart adalah kartu buat masuk museum. Panjangnya, gak cuma buat museum aja tapi juga beberapa destinasi kultural lainnya plus diskon buat masuk ke tempat tertentu.

Gimana, udah deg-degan belum denger kata diskon? 😍

Karna si Müzekart ini harus dibeli dan tidak bisa didapatkan dengan main lotre, jadilah ane dan pak bos harus menabung *loh, jare endorse* 😅 Itulah sebabnya ane kudu nunggu dulu selama beberapa bulan, selain karna nunggu datangnya musim panas ☀

Jenis kartunya ada dua. Müzekart+ yang warnanya merah, 50TL. Kalau beli yang ini bisa dipakai keluar masuk museum di seluruh penjuru Turki sepuasnya selama setahun. Satunya adalah Müzekart biasa tanpa +. Warna kartunya biru dan harganya 40TL. Yang ini cuma bisa masuk 2x ke museum yang sama. Buat emak-emak macem ane, harganya lumayan juga 😌 Soalnya duit segitu lebih mahal daripada tagihan air atau gas di rumah tangga kami 😭 Tapi dengan mempertimbangkan opportunity cost, kami dengan mengucap bismillah pilih yang +.

biar bisa puas pusing-pusing

Ada fotonya, yak. Identitasnya juga ada. Jadi ndak bisa dibuat barengan satu kampung 😮

Tapi nganu, Müzekart ini cuma ditujukan untuk turis domestik (WNT) serta orang asing pemegang ikamet. Tulisan diatas sebenarnya gak bermanfaat secara fungsi untuk turis internasional. 

“Jadi dari tadi kita ngapain, mak?!”

“Intermezzo, ajah. Sekalian mak mau pamer Müzekart punya mak 😂”

“…”

http://www.muze.gov.tr

Buat turis internasional, namanya Museum Pass. Harga, ketentuan, dan penampilan fisiknya beda sama Müzekart 😅 Pastinya lebih terbatas dibandingkan dengan Müzekart+ dan Müzekart. Gampangnya begini:

  1. Harga 85TL
  2. Masa berlaku 5 hari terhitung sejak hari pertama pemakaian kartu
  3. Situs yang bisa dikunjungi terbatas tapi tetap dapat diskon untuk ke tempat tertentu (daftarnya bisa dicek dimari About Museum Pass)

Untungnya pakai Museum Pass adalah harga tiket jadi lebih murah dibandingkan harus beli satu-satu di tiap situs dan lebih praktis. Contohnya waktu ane ke Hagia Sophia. Harga tiket tanpa Müzekart atau Museum Pass 40TL. Antrian masuknya pun beda antara yang pegang kartu dan yang gak punya. Mereka yang gak punya kudu ngantri panjang di bagian ticketing, panas-panas pula. Syedih 😢 Sedangkan ane dan pak bos tinggal masuk aja setelah nunjukin kartu.

Kekurangannya ada, gak? Jatuhnya lebih mahal kalau cuma satu sampai tiga situs aja yang dikunjungi selama 5 hari itu. Cuma tergantung juga sama harga tiketnya karna tiap situs harganya bisa beda-beda. Yang pasti kalau punya kartu, gak perlu ngantri 😋

Sama kayak duo Müzekart, belinya nunjukin identitas diri *lagi-lagi gak bisa dipakai buat satu kampung*. Berhubung ane bukan calo kartu Museum Pass, silahkan kembali ke About Museum Pass lagi buat lihat ini kartu bisa dibeli dimana aja 😂

Advertisements

Yerebatan Sarnıcı 

Situs: Yerebatan Sarnıcı /Basilica Cistern 

Lokasi: Istanbul

Hari & Jam Operasional: Setiap hari pukul 09.00 – 18.30

Harga Tiket: 20TL

Müzekart/Museum Pass: Tidak berlaku

Website: yerebatan.com 

***

Sejak datang kemari, ane belum kesampaian silaturahmi ke tempat bersejarah. Kebanyakan ngetem di pasar. Meratapi konde yang tak kunjung ketemu 😢 Plus, menunggu pak bos menepati janjinya mendapatkan Müzekart untuk istri tercintah 😗

“Apakah Müzekart itu, mak?” 

“Tunggu postingan selanjutnya, Grandong. Mak mau bertapa dulu.”

Baru-baru ini akhirnya pak bos menepati janjinya. Kami pun cus naik tramvay dan turun di pemberhentian daerah Sultan Ahmet 🚊 Sebagai muslim yang penasaran dengan barang peninggalan Rasulullah dan masa kejayaan islam dulu, destinasi pertama yang dipilih adalah Topkapı Sarayı (Topkapı Palace). Rencananya, Müzekart akan dibeli on the spot di sana 😌

Ane pun ngekor pak bos. Awalnya masih mantep ke Topkapı sebagai tujuan pertama. Tapi tiba-tiba pak bos terhipnotis dan berubah pikiran ketika lihat papan penunjuk bertuliskan Yerebatan Sarnıcı. Jadilah kami berjamaah mampir ke sana dulu.

Masuknya bayar 20TL untuk turis. 10TL untuk WNT dan orang asing pemegang ikamet (kartu izin tinggal). Müzekart gak bisa dipakai di sini. Berhubung belum punya Müzekart, hati pun ikhlas bayar 10TL 😄 Begitu punya, “Kenapa gak bisa pakai Müzekart coba?!”

Yerebatan Sarnıcı ini punya nama internasional Basilica Cistern. Dan nama aliasnya adalah ‘The Sunken Palace’ karna tempatnya memang di bawah tanah, deket sama Hagia Sophia. Dibangun oleh Kaisar Romawi Justinianus I pada tahun 532M, fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan air.

“Lah.. Gorong-gorong dong, mak?”

“Beda, Grandong 😒 Kalau gorong-gorong itu lubang yang dipakai buat pembuangan air, biasanya ada di bawah jalan.”

Seperti umumnya tempat wisata di Istanbul, kami kudu ngelewatin xray dulu sebelum nengokin si Yerebatan Sarnıcı. Tapi karna ane lagi berbadan dua, cuma pak bos yang lewat xray sementara ane kudu rela ‘disentuh-sentuh’ sama security 😂 Security-nya perempuan, kok. Dan satu-satunya bom yang ane bawa adalah kentut, itu pun pasif 😗

Ane lolos pemeriksaan dan menapaki tangga marmer turun ke bawah. Ada yang agak gimana gitu waktu di tangga. Di sana dipasang papan larangan yang salah satunya adalah foto. Mulanya ane kira gak boleh foto-foto selama di situs. Ternyata maksudnya gak boleh foto di tangga. Semoga tujuannya bukan untuk menyindir korps alay internasional. Ane bisa-bisa sakit hati 😭

Berdasar keterangan yang ane baca, jumlah anak tangganya ada 55 (entah ada apa dengan jumlah itu karna gak ada penjelasan lebih lanjut dan ane cari juga gak ketemu) 😮 Masa Kekaisaran Romawi, Yerebatan ini difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air istana dan penduduk di sekitarnya. Masuk masa Kesultanan Ottoman, dipakai untuk pengairan Istana Topkapı.

Sebelum keliling, kalau mau ente bisa foto-foto pakai kostum ala ala Ottoman. Ada stand-nya yang bisa langsung keliatan begitu masuk situs. Bayarnya 20TL seinget ane tapi gak tau dapet berapa kali jepret. Kami gak mampir soalnya udah punya foto model begituan walaupun view-nya bagus sebenernya 😕

Tempatnya remang-remang, ya. Jadi hati-hati kalau kemari biar gak kepleset atau tergoda untuk melakukan hal yang enggak-enggak, kentut contohnya 😂 Serius, karna ini di bawah tanah sehingga sirkulasi udaranya kurang oke, kalau ente kentut baunya.. Ah, sudahlah. 

Nah, kalau ente takut kepleset, lantai batu si Yerebatan ini katanya sudah dipertebal dengan campuran plester Khorasan. Itu apa, ane juga kurang tau. Hasil browsing ane menyebutkan kalau Khorasan merupakan istilah modern untuk menyebut wilayah timur Persia kuno. Mungkin bahannya diimpor dari Khorasan maksudnya (?). Kalau ada yang tau, boleh dong dibagi informasinya. Ane penasaran 😀

sisi pertama yang ane lihat

Total ada 336 pilar marmer yang menyangga Yerebatan Sarnıcı. Tingginya masing-masing 9m. Mereka berbagi beban atap dengan cara seperti ini:

yerebatan.com

Si Yerebatan ini bisa nampung sampai 100.000 ton air. Ane gak tau dan gak ada bayangan 100.000 ton air itu penampakannya kayak apa. Karna ane gak ngukur sendiri dan sekedar sadur dari brosurnya 😅 

Masih menurut si brosur, bagian Yerebatan yang paling menarik pengunjung adalah patung kepala Medusa. Ada dua patung kepala Medusa yang dipakai sebagai alas pilar. Dua-duanya dipasang secara terbalik. Kenapa terbalik? Berangkat dari mitologi kalau siapapun yang ngelihat si Medusa akan berubah jadi batu makanya dipasang terbalik untuk menangkal sihir doi. 

buat tolak bala

Ane sendiri justru tertarik sama ikan-ikan yang mondok di sana. Ikannya gede-gede, entah jenis ikan apa. Mereka ngumpul di tempat yang ada cahayanya (beberapa bagian di Yerebatan gak dikasih penerangan). Kayaknya sih emang sengaja cuma ditempatin di bawah pencahayaan, bukan karna yang di tempat gelap gak keliatan. 

bukan ikan cetul

Pak bos yang hobi mancing pun mengamati dengan terpukau ikan-ikan itu. Apakah boleh dipancing? Gak tau. Kami gak coba tanya ke petugasnya 😰 

Oya, di dasar air ada koin-koin yang berkilauan. Tebakan ane sih itu duit receh. Gak tau kenapa pada ngelempar ke sana. Mungkin semacam make a wish (?). Bisa jadi. Tapi ane dan pak bos gak ngelempar. Kasihan si ikan kalau kepalanya ketiban koin. Lagian lumayan juga duitnya buat nambah-nambahin beli mini kuper 🚗 #bolehbermimpi

Di penghujung, ada cafe seandainya ente laper atau haus. Lokasinya di bawah tangga keluar. Monggo ke sana, makan sambil duduk-duduk menikmati syahdunya suasana di Yerebatan Sarnıcı 🌹

Si Bau Kaki

Gak ada yang protes tentang bau tempe ketika digoreng semasa di Indonesia. Pak bos pun udah diicipin tempe dan makan dengan tenang waktu di sana. Di sini, negara api belum menyerang tetapi semua sudah berubah 😪 Sebelum summer, ngidam mendoan dan mencium sesuatu yang tidak semestinya ketika proses penggorengan. Nasib tinggal di apartemen, bau pun menyebar ke tiap sudut rumah. Oh, well.. 😒

Kata pak bos, “Kamu goreng apaan, sih? Kok baunya mirip bau kaki.” Jadilah tempe dilabeli ‘Si Bau Kaki’ sejak saat itu. Kasihan dia 😞 Padahal dia hanya ingin menyelamatkan si jabang bayi dari iler berlebih kalau ngidam si ibu tidak keturutan. 

“Eh, tapi kok ada tempe di Turki?”

“Ada, nak. Kalau punya ragi tempe dan kedelai bisa bikin sendiri. Kalau gak punya, ya beli ke sesama orang Indonesia yang jualan tempe.”

“Kalau jodoh ada, nek?”

“Banyak-banyakin mandi aja, nak. Biar gak prengus.”

Awalnya ane kira karna tempe lama jadinya bau. Setelah itu ane coba tempe yang fresh. Enggak bau. Mau bilang “finally I found you” tapi ternyata setelah satu hari tempe yang fresh pun mengalami nasib serupa. Dia bauuu 😭 Dia bukan lagi tempe yang ane kenal sehari sebelumnya. Dia berubah, ufff! 

Pak bos pun protes lagi. Jadinya ane menghentikan proses goreng tempe karna tidak mau dianggap sebagai penyembah kaki atau berusaha untuk mabuk bau kaki sebagai pengganti lem dan aseton. 

Ane yang semula berpikir kalau nasib ane aja yang lagi gak sip, dapat kabar kalau yang lain pun ada yang mengalami hal serupa *I know I’m not the only one..* Walaupun ane gak tanya, sih, apakah suaminya juga bilang baunya kayak bau kaki 😂 

Kalau yang doyan sama tempe semangit bisa dibuat sambal tumpang. Tapi sebagai pecinta mendoan, jadi ada bau yang berdiri diantara kami – ane dan si mendoan. 

Tempe yang merupakan makanan rakyat jadi sesuatu yang kompleks di sini #halah. Dulu biasa beli lima rebu buat dimakan rame-rame sekeluarga – dan masih bisa diolah buat beberapa hari – sekarang begini adanya *semua terserah padamu.. tempe begini adanya..

Menghadapi tempe di sini tidak lebih sulit dibandingkan menghadapi calon mertua, eh tahu maksudnya 😅 Proses bikin tahu lebih gampang menurut ane. Kalau ane paling cuma males dibagian nyaring air blenderan kedelainya. Tapi kalau tempe selain prosesnya yang ribet, juga bergantung sama suhu. Mungkin bikinnya harus menggunakan ilmu fengshui 😰 

Pelajaran yang bisa dipetik dari tulisan ini, yakni tidak ada perbedaan antara bau kaki di Turki dengan bau kaki di Indonesia 😂