Image
2

“Ente dari Negara Tetangga?”

Ini bukan kisah mengenai insan dari Negeri Jiran. Bukan juga kisah antara Yoko dengan Bibi Lung. Ini kisah ane di sini yang gagal dikenali sebagai homo sapiens dari Indonesia 😒 

Dulu ane cuma jadi pendengar setia dari teman-teman Indonesia yang ‘dicurigai’ sebagai orang Suriah. Iye, Suriah. Negara tetangga Turki kan dia – Suriah, Syria.. 

Sejak cerita itu beredar ane pun jadi lebih memperhatikan penampilan ane kalau keluar. Pakai baju non kw, jilbab blink-blink, sepatu berduri kayak yang pernah dipakai Farhat Abbas. Intinya, dandanan ala perlente. Ups, enggak lah. Yang penting rapi, bersih, dan sebisa mungkin gak mengumbar aurat πŸ˜€

Udah dijabanin macam itu ternyata tidak menghindarkan ane dari nasib yang sama. Suatu hari ane sama ibu mertua pergi ke apotek setelah dari sağlΔ±k hoca (dokter keluarga). Ada beberapa vitamin yang diresepkan sama si dokter buat ane. 

Yang ngomong sih waktu itu ibu mertua. Karna di resep tertulis nomer ikamet ane juga, si penjaga apotek pun bilang kalau resep gak bisa diproses. Kenapa? Karna ane orang Suriah 😱 

Katanya – setelah melihat ke muka ane – tiga digit awal nomer ikamet ane mengindikasikan kalau ane orang Suriah. Dan masih katanya, “Silahkan kalau mau ke apotek yang lain karna akan sama juga responnya.” Ibu mertua ane yang gak terima mantunya yang lagi bunting ini diperlakukan seperti itu pun naik pitam. Gak sampai naik-naik beneran sih. Jadi badmood aja gitu. 

Iyalah badmood. Cuma modal liat nomer ikamet di resep plus muka terus langsung mendiagnosa kalau ane orang Suriah. Padahal kalau liat di kartu ikametnya, ditulis keterangan kalau kewarganegaraan ane adalah Indonesia. “Indonesiaaa tanah air beeeta, pusakaaa abadi nan jayaaa..”

Kemudian berkatalah ibu mertua kepada si penjaga apotek tersebut, “Wahai kisana, apakah kau tau bahwa menantuku ini adalah seorang Indonesia dan suaminya adalah lemur?!” (aslinya memur yang berarti PNS tapi ane nyebut lemur biar pak bos keliatan lebih imut 😳). 

Jangan salah paham dulu. Ane bukannya gak suka sama orang Suriah. Orang Suriah justru cantik-cantik dan ganteng-ganteng, lo πŸ˜€ Mukanya arab gitu. Rambut dan warna matanya juga ada yang berwarna. Cuma untuk warna kulit, sejauh ini yang ane liat di Turki, mereka coklat-coklat. Kalau ane disebut Suriah, ibarat ane Ponimah dipanggil Marcella dah πŸ˜‚

Yang bikin gak enak hati itu sikap si kisana penjaga apotek. Dia bahkan gak tanya dulu ke akuh getoohhh.. 😭 #dimanahatikalian (ala ala awkar*n). Setelahnya, si kisana bilang kalau resep macem punya ane gak bisa diproses untuk suami istri WNA. 

“Jadi si kisana pikir suami ente juga WNA? Jadi apa hubungannya ente sama orang Suriah?” πŸ˜“

Hubungannya sama kayak soal yang panjang lebar ngomongin kecepatan terbang pesawat tapi yang ditanya adalah tanggal berapa si pilot bakal kawin. Gak ada hubungannya! πŸ˜• 

Sejak pemerintah Turki menerapkan kebijakan pintu terbuka bagi para warga Suriah, jadi banyak orang Suriah masuk ke Turki. Akibatnya di kalangan masyarakat Turki muncul sentimen anti Suriah. Suasana jadi makin gak enak ditambah dengan privilege yang diberikan ke warga Suriah akhir-akhir ini – diberikan status kewarganegaraan Turki, bisa bikin ikamet tanpa bikin janji dulu, tunjangan, dsb. Jadilah sentimen ini merambat ke WNA lainnya, apalagi yang mirip-mirip Suriah mukanya. Padahal WNA kayak ane – yang bersuamikan WNT – buat tinggal disini bayar, lo πŸ˜— Walaupun yang bayar tetep pak bos πŸ˜‚

Sehubungan dengan resep, karna ane ada asuransi maka 80% biaya obat dicover sama asuransi. Mungkin ada peraturan yang berbeda untuk suami istri WNA dan warga Suriah yang tinggal dimari. Entahlah. Apapun itu, rasa-rasanya tetap gak pantas berucap seperti si kisana penjaga apotek ke orang lain. Ketauan deh kalau rasis #duh πŸ˜›

Ini sekedar cuap-cuap ane sebagai ungkapan rasa heran tak berkesudahan. Mereka yang mengira orang Indonesia sebagai Suriah dapat ilham dari mana. Iya sih kulit sama-sama coklat. Tapi kan muka asia. Lihat dong hidung kami yang mblesek ini (pesek, red)! #eh. 

Tulisan ini bukan untuk mengeneralisasi bahwasannya semua orang sini rasis. Percayalah, orang rasis mah nyebar dimana-mana, pating tlecek! πŸ˜€ Inshallah di sini lebih banyak orang ramah dan yang kelewat ramah sama WNA. Terutama yang pernah umrah atau naik haji dan tau kita dari Indonesia. Yang overexicted ketika ketemu WNA juga ada (pengalaman waktu kontrol di RS dikepoin ibu-ibu sepoliklinik). 

Orang baik selalu ada 😊

Advertisements

2 thoughts on ““Ente dari Negara Tetangga?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s