Image
0

Hagia Sophia dan O.D. Agama

Halo, ane habis menjalankan hobi aneh ane yang lainnya – stalking IG selebgram. Iya sih gak berguna, boros kuota, dan buang-buang waktu πŸ˜— Ane lakukan demi mencari seonggok inspirasi untuk menulis dan untuk hidup. 

“Minta inspirasinya, Pak, Bu.. Dari kemarin saya belum makan..” 😒

Lalu apa yang ane dapatkan hari ini? Ane mampir ke salah satu IG selebgram yang lagi liburan ke Turki. “Wah, Turki nih..”, pikir ane pada awalnya (maaf, udah tinggal dimari tapi masih kampungan πŸ˜‚). Seperti biasa, yang bikin ane betah lama-lama stalking – dari hal yang penting sampai gak penting – adalah komentar para komentatornya πŸ˜€ Kebetulan si selebgram posting foto dia yang lagi di Hagia Sophia. 

Bunda Maria di tengah lafadz Allah SWT dan Muhammad SAW

Ane gak pasang foto dari IG dia. Nanti ketauan dong siapa yang lagi ane omongin πŸ˜… Maapin, yak! Tapi venue-nya sama persis, ya pas di sisi Hagia Sophia yang itu. Dan komentarnya bikin alis ane goyang sendiri 😱

Ini khusus yang tetiba pada ribut soal agama. Padahal fotonya biasa aja dan caption-nya juga gak mengundang provokasi. Menurut ane, sih. Eh, bukan karna ane ateis ya. Mungkin karna daya ledak ane ringan πŸ˜†

Ane justru bangga dan berbahagia ketika semua penduduk Indonesia beragama, selalu menyertakan Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya – dan untuk hal ini ane yakin kita jauh lebih baik daripada barat sono. Sayangnya, dalam beberapa kasus banyak yang sepertinya overdosis agama. 

“Orang ngomongin agama kok ndak suka to, mbakyu?”

Eits, tunggu dulu! Sekali lagi ane bukan ateis, lo. Dan ane bukannya gak suka kalau ada yang ngomongin agama. 

Overdosis menurut KBBI merupakan ukuran (obat dan sebagainya) yang berlebihan. Dalam hal beragama 11 – 12 dengan obat. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan – agama untuk kesembuhan rohani, obat untuk kesembuhan raga. Diberikan sesuai dengan penyakitnya setelah didiagnosa. Keduanya sama-sama bisa meracuni ketika dosis yang dipakai tidak pas, berlebihan! Bedanya adalah agama diberikan oleh Allah melalui rasul-Nya dan yang pasti gak mungkin salah diagnosa. Jadi cara ‘pemakaian’ agama tergantung dari penganutnya. Kalau ada yang overdosis ya itu berarti orang tersebut yang salah pemahamannya berikut penerapannya, bukan karna ajaran agamanya yang kelewat fanatik. 

Ane pernah baca kalau salah satu penyebab orang overdosis agama adalah karena kurangnya pengetahuan terhadap agama. Lalu ada apa dengan orang-orang yang mendadak pada ribut bawa-bawa agama – dan beradu dengan pemeluk agama lain – hanya karna lihat foto Hagia Sophia itu? #nahlo 😱 

Yang paling lucu bagi ane, salah satu komentar bilang kalau kiamat sudah dekat diikuti dengan tag ke temannya. Komentar ini pun bikin penganut agama lain jadi salah paham dengan dia. Terlebih lagi ybs mengenakan atribut keagamaan di fotonya. Eh, ternyata ybs gak tau sejarah penaklukan Konstantinopel yang sudah jauh-jauh hari diberitakan oleh Rasulullah SAW dan ujungnya juga gak tau tentang Hagia Sophia apalagi Muhammad Al-Fatih 😒 Alhamdulillah, dia berjiwa besar mau mengakui kesalahannya dalam berkomentar plus ketidaktahuannya.

Ane nulis begini bukan karna ane orang suci (seperti kata anak-anak alay yang ketika dinasehatin selalu balik nanya, “Emang kamu suci?” – maaf ya dek nama ane bukan Suci πŸ˜›), bukan pula karna ilmu agama ane sempurna. Ane juga beragama dan sering merasakan bagaimana rasanya ketika hasrat untuk mati-matian membela apa yang kita anut itu muncul. Tapi kita beragama supaya sembuh dari penyakit-penyakit rohaniah, bukan untuk keblinger karna ketidaksesuaian dalam pemahaman dan penerapannya sebab kurangnya ilmu kita. Apalagi sampai menimbulkan perpecahan ke internal dan eksternal. Waduh! 😭 

Agama salah satu hal tersensitif di dunia. Manusia bisa tiba-tiba mendeklarasikan perang ketika agama mereka diuprek-uprek. Maka jika ingin membela, belalah dengan ilmu. Jika ingin berkomentar, berkomentarlah dengan ilmu. Kalau gak tau, diam dan belajarlah. Kalau gak mau diam, bertanyalah atau berdiskusilah. Jangan berdebat mancing emosi walaupun sekedar di dunia maya. Efeknya justru bisa lebih luas karna semua orang bisa mengakses dan melihat 😊 

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa Allah menurunkan perintah iqra’ (bacalah) kepada Rasulullah SAW sebagai wahyu pertama. Kelihatannya sederhana, bacalah. Tapi ternyata ini bisa menyelamatkan dari kesesatan hingga perpecahan antarmanusia. Menyelamatkan dari overdosis dalam beragama.

Aduh, jadi terharu.. Kurang lebihnya itulah yang mau ane ungkapkan. Semoga bisa ditangkap maksudnya. Kalau ada salah-salah serta perasaan tidak berkenan, maapin ya πŸ‘Ό Ane gak ada niatan untuk menyakiti, memojokkan, maupun menginjak-injak pihak tertentu. Karna kita sesama manusia ciptaan-Nya – bukan samsak untuk dipukuli, bukan batu sandungan untuk dipojokkan, dan juga bukan karpet untuk diinjak. Mari kita sama-sama saling menjaga supaya tidak terjebak dalam lingkaran khilaf berjamaah dan dari labeling kurang piknik sebab ketidaktahuan kita. 

Quote original dari ane sebagai penutup (ane juga punya quote, wee πŸ˜›):

“Dalam kehidupan nyata kita tidak bisa terus-menerus berpiknik untuk mengetahui berbagai hal tapi kita bisa belajar dan membaca setiap saat, seumur hidup.”

-azb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s