Image
0

Ketika Ani Harus Kerikan

Ritual kerikan bisa jadi penyelamat waktu masuk angin. Apalagi kalau ditambah pijat, wuih.. #mimpi 😅 Buat ane yang sering kaku leher, biasanya suka kerikan sendiri. Gak setiap kali kaku leher pasti kerikan, sih. Kalau lagi niat meringankan beban hidup aja 😘

Sewaktu masih di Indonesia, selepas ijab qabul ane sakit. Beberapa hari kagak sembuh-sembuh. Emak pun melaksanakan ritual kerikan full body ke ane – dari leher sampai pinggang. Kerikannya gak di ruang penganten jadi emak bilang, “Suamimu suruh lihat jadi bisa kerikin kamu kalau masuk angin di Turki nanti”. Tapi ane jawab enggak usah. Bukan karna gak mau terlihat aneh – pak bos justru lebih aneh daripada ane 😂 Males aja lagi enak-enak kerikan disuruh gerak ke kamar penganten manggil pak bos. Jadilah pak bos tidak pernah tau kerikan itu apa.

Sampai suatu hari ane melakukannya disini.

Kaku leher ane lagi parah-parahnya, kumat berhari-hari. Cuaca musim dingin pun bikin ane jadi mriang. Ane kerik deh itu leher dilanjut sama bobok siang. Dan pulanglah pak bos ke rumah setelah lelah bekerja demi mencari sesuap roti. Bekas kerikan ane yang merah syahdu pun terlihat olehnya. Jrenggg.. Pak bos jejeritan! 😒

Ini bukan lebay. Tapi pak bos yang masih syok karna istrinya tiba-tiba bertato bertanya, “Kenapa kamu menyiksa diri sendiri?”. Oh, apa? Bisa diulang? 

Iyes, pak bos bilang kalau ane menyiksa diri sendiri. Dia gak tau betapa nikmatnya kerikan itu dan justru memandangnya sebagai instrumen penyiksaan 😞 Ane coba jelasin tapi pak bos malah minta bukti ilmiah 😰 Besoknya ane dibawa ke dokter buat meriksain bekas kerikan ane – pastinya ke dokter Turki yang sama-sama gak tau kerikan itu apa – dan kena larangan untuk kerikan 😭

Mereka tuh gak tau rasanya jadi gue! 😢 

Ane pun sukses jadi bahan tertawaan keluarga di kampung. 

Tapi apakah ane berhenti kerikan setelah itu? Enggak. Ane masih kerikan, sembunyi-sembunyi 😀 Walaupun tetep ketahuan sama pak bos dan dialog pun bergulir..

 “Ani, tadinya kukira kau seorang gadis yang lain di kampung ini! Tadinya kukira kau sebuah pribadi! Tapi rupanya kau tidak lebih daripada gambaran seorang gadis kampung yang mudah kerikan sembarangan! Kau perempuan yang lemah! Perempuan yang terlalu mudah menentukan sikapnya sendiri! Tentunya kau tahu bukan? Bahwa apa yang kularang selama ini adalah demi kau, Ani. Demi kita berdua. Tapi semua ini kau khianati! Kau hancurkan! “

“Tapi, Rhoma! Semua ini kulakukan karena..” 

“Karena kau tidak mencintai aku lagi?!”

“Bukan begitu, Rhoma!” 

“Atau memang dengan sengaja kau hendak membuat aku menderita?” 

“Tidak, Rhoma!” 

“Cukup, Ani!”

Pesan moralnya adalah lakukanlah apa yang dikatakan emak! Coba kalau dulu ane nurut buat nunjukin proses kerikan ke pak bos, dia pasti bisa mengendalikan diri sendiri – dari kehebohan – ketika lihat istrinya kerikan dan bisa dengan ikhlas menerima kehadiran ruas-ruas merah yang berjejer tanda telah dilaksanakannya ritual kerik. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s