Perut yang Nasionalis

Sejak berimigrasi dan berkiprah sebagai IRT full time, ane lebih sering menghabiskan waktu dengan whatsapp kesana-kemari sembari menunggu pak bos pulang 😪 Beberes? Ah cuma freelance kok. 

Suatu hari ane cuap-cuap ke salah satu sahabat masa kuliah. Pamer makan tumis pare plus ikan asin dengan bangganya. Eh dibalas, “Ya Allah Mel, kamu udah keren tinggal di Turki ternyata makannya masih gereh” (ikan asin). Ya Allah, Baim gak keren lagi 😞

Tapi ya mau gimana. Dari sononya ikan asin selalu jadi makanan favorit. Disuguhi ayam, daging, dsb kalau ada ikan asin selalu pilih ikan asin – jenis apapun!

Pernah ane ditraktir makan di rumah makan yang piringnya berjejer itu. Dan salah satu menunya adalah ikan teri. Bak ahli kungfu, tangan pun langsung melayang menggerayangi si teri. Sedikit pun gak kepikiran kalau orang tersebut bakal tersinggung karna ane pilih teri dibanding makanan mahal lainnya, yang pastinya tidak diragukan bisa diraih oleh kocek beliau. Serius tidak ada niat menghina. Ane juga kaget karna biasanya orang yang mentraktir selalu berharap ane ambil makanan yang murce-murce dan itu pertama kalinya ane dihadapkan pada ketersinggungan seseorang akibat ane pilih makanan rakyat jelata 😂

Tunggu sampai kalian berimigrasi kemari. Atau ke negara lain yang mana makanan sekelas warteg – di Indonesia – harganya jadi lux, bayarnya pakai gesek kartu kalau perlu 😀 Pak bos pun mengaku kepalanya selalu puyeng dan duitnya terkuras entah kemana setelah menikah dengan WNI, yaitu ane (maap di sini gak ada babi ngepet atau tuyul untuk dikambinghitamkan kalau urusan duit ilang) 😂 Ikan asin yang tadinya menu rakyat jelata, di sini kalau mau beli bela-belain gak beli pernak-pernik ala emak-emak seperti konde, dsb.

Gimana lagi. Hidup di perantauan yang terlalu merantau ketika hamil jadi lebih hedon. Tiap hari dimakanin kebab. Begitu buncit menuntut makanan kampung halaman, yang mana seberapa tebal halamannya berpengaruh pada pengeluaran negara 😰 Pak bos pun harus rela makan seadanya demi istri dan si jabang bayi.

Wah berarti itu karna bawaan hamil? Beh, sayangnya bukan. Hamil hanya meningkatkan nafsu beringas ingin makan masakan nusantara beberapa persen saja. Persenan yang lebih besar ini karna pada dasarnya siapa diri kita yang sebenarnya tidak bisa dibohongi 😛 Orang Indonesia ya orang Indonesia.

Ane jadi ingat kata-kata guru PKn sewaktu jaman SMA. Beliau bilang, “Rasa nasionalisme terasa lebih kuat ketika hidup jauh dari tanah air.” Begitulah dengan masakan kampung halaman. Dia mengingatkan kita akan tanah air dan betapa ‘kampungan’-nya kita karna tetap mencarinya ketika di luar. Bahkan sekalipun mampu beli, belum tentu makanan yang dimau ada. 

Jadi begitulah. Perut pun punya rasa nasionalismenya sendiri.

***

Saat nulis ini pun ane masih belum kesampaian makan gudeg krecek 😢 Padahal hampir 1 tahun berlalu. Ew!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s