Image
0

Hagia Sophia: Portfolio of A Dream

Perhaps not in Fatih’s way of dreaming

But same as him, I also longing for this place

Where my hope started to flow

In a land which in the name of love I feel it

-azb


♥ The Beauty Outside

February 14, 2016

February 14, 2016

February 14, 2016

August 13, 2016

August 20, 2016


♥ The Beauty Inside 

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

August 13, 2016

Image
2

“Ente dari Negara Tetangga?”

Ini bukan kisah mengenai insan dari Negeri Jiran. Bukan juga kisah antara Yoko dengan Bibi Lung. Ini kisah ane di sini yang gagal dikenali sebagai homo sapiens dari Indonesia 😢 

Dulu ane cuma jadi pendengar setia dari teman-teman Indonesia yang ‘dicurigai’ sebagai orang Suriah. Iye, Suriah. Negara tetangga Turki kan dia – Suriah, Syria.. 

Sejak cerita itu beredar ane pun jadi lebih memperhatikan penampilan ane kalau keluar. Pakai baju non kw, jilbab blink-blink, sepatu berduri kayak yang pernah dipakai Farhat Abbas. Intinya, dandanan ala perlente. Ups, enggak lah. Yang penting rapi, bersih, dan sebisa mungkin gak mengumbar aurat 😀

Udah dijabanin macam itu ternyata tidak menghindarkan ane dari nasib yang sama. Suatu hari ane sama ibu mertua pergi ke apotek setelah dari sağlık hoca (dokter keluarga). Ada beberapa vitamin yang diresepkan sama si dokter buat ane. 

Yang ngomong sih waktu itu ibu mertua. Karna di resep tertulis nomer ikamet ane juga, si penjaga apotek pun bilang kalau resep gak bisa diproses. Kenapa? Karna ane orang Suriah 😱 

Katanya – setelah melihat ke muka ane – tiga digit awal nomer ikamet ane mengindikasikan kalau ane orang Suriah. Dan masih katanya, “Silahkan kalau mau ke apotek yang lain karna akan sama juga responnya.” Ibu mertua ane yang gak terima mantunya yang lagi bunting ini diperlakukan seperti itu pun naik pitam. Gak sampai naik-naik beneran sih. Jadi badmood aja gitu. 

Iyalah badmood. Cuma modal liat nomer ikamet di resep plus muka terus langsung mendiagnosa kalau ane orang Suriah. Padahal kalau liat di kartu ikametnya, ditulis keterangan kalau kewarganegaraan ane adalah Indonesia. “Indonesiaaa tanah air beeeta, pusakaaa abadi nan jayaaa..”

Kemudian berkatalah ibu mertua kepada si penjaga apotek tersebut, “Wahai kisana, apakah kau tau bahwa menantuku ini adalah seorang Indonesia dan suaminya adalah lemur?!” (aslinya memur yang berarti PNS tapi ane nyebut lemur biar pak bos keliatan lebih imut 😳). 

Jangan salah paham dulu. Ane bukannya gak suka sama orang Suriah. Orang Suriah justru cantik-cantik dan ganteng-ganteng, lo 😀 Mukanya arab gitu. Rambut dan warna matanya juga ada yang berwarna. Cuma untuk warna kulit, sejauh ini yang ane liat di Turki, mereka coklat-coklat. Kalau ane disebut Suriah, ibarat ane Ponimah dipanggil Marcella dah 😂

Yang bikin gak enak hati itu sikap si kisana penjaga apotek. Dia bahkan gak tanya dulu ke akuh getoohhh.. 😭 #dimanahatikalian (ala ala awkar*n). Setelahnya, si kisana bilang kalau resep macem punya ane gak bisa diproses untuk suami istri WNA. 

“Jadi si kisana pikir suami ente juga WNA? Jadi apa hubungannya ente sama orang Suriah?” 😓

Hubungannya sama kayak soal yang panjang lebar ngomongin kecepatan terbang pesawat tapi yang ditanya adalah tanggal berapa si pilot bakal kawin. Gak ada hubungannya! 😕 

Sejak pemerintah Turki menerapkan kebijakan pintu terbuka bagi para warga Suriah, jadi banyak orang Suriah masuk ke Turki. Akibatnya di kalangan masyarakat Turki muncul sentimen anti Suriah. Suasana jadi makin gak enak ditambah dengan privilege yang diberikan ke warga Suriah akhir-akhir ini – diberikan status kewarganegaraan Turki, bisa bikin ikamet tanpa bikin janji dulu, tunjangan, dsb. Jadilah sentimen ini merambat ke WNA lainnya, apalagi yang mirip-mirip Suriah mukanya. Padahal WNA kayak ane – yang bersuamikan WNT – buat tinggal disini bayar, lo 😗 Walaupun yang bayar tetep pak bos 😂

Sehubungan dengan resep, karna ane ada asuransi maka 80% biaya obat dicover sama asuransi. Mungkin ada peraturan yang berbeda untuk suami istri WNA dan warga Suriah yang tinggal dimari. Entahlah. Apapun itu, rasa-rasanya tetap gak pantas berucap seperti si kisana penjaga apotek ke orang lain. Ketauan deh kalau rasis #duh 😛

Ini sekedar cuap-cuap ane sebagai ungkapan rasa heran tak berkesudahan. Mereka yang mengira orang Indonesia sebagai Suriah dapat ilham dari mana. Iya sih kulit sama-sama coklat. Tapi kan muka asia. Lihat dong hidung kami yang mblesek ini (pesek, red)! #eh. 

Tulisan ini bukan untuk mengeneralisasi bahwasannya semua orang sini rasis. Percayalah, orang rasis mah nyebar dimana-mana, pating tlecek! 😀 Inshallah di sini lebih banyak orang ramah dan yang kelewat ramah sama WNA. Terutama yang pernah umrah atau naik haji dan tau kita dari Indonesia. Yang overexicted ketika ketemu WNA juga ada (pengalaman waktu kontrol di RS dikepoin ibu-ibu sepoliklinik). 

Orang baik selalu ada 😊

Image
0

Anu.. Romawi Belok Mana, ya?

Di Istanbul ini banyak banget situs bersejarahnya. Seringnya, pak bos mendikotomikan sebagai Osmanlı atau Bizans. “Bu Osmanlı.. O Bizans..” Ini dari masa Ottoman.. Itu dari masa Bizantium. Cuap-cuap sendiri, mungkin sedang berusaha mengenang moyangnya 😌

Kadang ane sahutin. Seringnya sih ane liatin, objek mana yang barusan disebutnya sebagai ‘kepunyaan’ Kesultanan Ottoman atau Kekaisaran Bizantium.

Suatu hari, ditengah-tengah cuapannya pak bos, ane gatel juga ingin melegakan rasa yang mengganjal di otak #otakjugapunyaperasaan 😀 Ane sela dengan pertanyaan, “Roma İmparatorluğu mu?”, ketika pak bos kembali mengkategorikan suatu situs dari masa Bizantium. Arti dari pertanyaan ane adalah ‘apakah dari masa Kekaisaran Romawi?’. Sedangkan maksudnya yakni ane pengen memastikan ‘apakah yang disebut pak bos sebagai Bizantium sama dengan Romawi?’.

Yah, itulah yang mengganjal ane – Kekaisaran Bizantium samakah dengan Kekaisaran Romawi? 

Sama. Hanya saja terdapat perbedaan nama berdasarkan konteks waktu. Nama Kekaisaran Romawi digunakan pada masa antikuitas akhir. Disebut sebagai Romawi Timur dalam konteks masa dimana Kekaisaran Romawi masih satu namun dikelola dengan sistem Romawi Barat dan Romawi Timur. Dan nama Kekaisaran Bizantium digunakan pada abad pertengahan

Sedikit penjesan, Bizantium merupakan nama terdahulu dari Konstantinopel – pusat pemerintahan Romawi Timur setelah Kaisar Constantine I memindahkannya dari Nikomedia di tahun 324M. Penduduknya sendiri lebih mengenal kekaisaran tersebut sebagai Romawi. Adalah Hieronymus Wolf yang pertama kali mempopulerkan nama Kekaisaran Bizantium di tahun 1557 melalui karyanya Corpus Historiae Byzantinae. Selepas itu nama Kekaisaran Bizantium pun lebih terkenal di dunia barat. 

Hagia Sophia: gereja peninggalan Kekaisaran Romawi yang kemudian diubah menjadi masjid pada masa Kesultanan Ottoman, sekarang museum

Perbedaan penyebutan nama ini sempat membuat ane dan pak bos hilang sinyal. Frekuensi antara kami mendadak jadi berbeda 😞 Padahal sebenarnya pihak yang dimaksud sama. Mungkin selama ini pak bos kebarat-baratan. Sedangkan ane yang old school lebih suka dengan nama Kekaisaran Romawi. Bisa jadi dulunya ane adalah penduduk Romawi 😱

“Ndak mungkin penduduk Romawi tuh kuprus kayak sampean.”

😢

Apa yang ane tulis adalah versi singkat dan garis besarnya aja. Kalau mau lebih detail, ada beberapa forum diskusinya dalam bahasa Inggris (maapkeun, gak nemu yang bahasa Indonesia). Monggo..

“Ghulibatirrûm.”

(QS. Ar-Rum: 2)

Image
0

Hagia Sophia dan O.D. Agama

Halo, ane habis menjalankan hobi aneh ane yang lainnya – stalking IG selebgram. Iya sih gak berguna, boros kuota, dan buang-buang waktu 😗 Ane lakukan demi mencari seonggok inspirasi untuk menulis dan untuk hidup. 

“Minta inspirasinya, Pak, Bu.. Dari kemarin saya belum makan..” 😢

Lalu apa yang ane dapatkan hari ini? Ane mampir ke salah satu IG selebgram yang lagi liburan ke Turki. “Wah, Turki nih..”, pikir ane pada awalnya (maaf, udah tinggal dimari tapi masih kampungan 😂). Seperti biasa, yang bikin ane betah lama-lama stalking – dari hal yang penting sampai gak penting – adalah komentar para komentatornya 😀 Kebetulan si selebgram posting foto dia yang lagi di Hagia Sophia. 

Bunda Maria di tengah lafadz Allah SWT dan Muhammad SAW

Ane gak pasang foto dari IG dia. Nanti ketauan dong siapa yang lagi ane omongin 😅 Maapin, yak! Tapi venue-nya sama persis, ya pas di sisi Hagia Sophia yang itu. Dan komentarnya bikin alis ane goyang sendiri 😱

Ini khusus yang tetiba pada ribut soal agama. Padahal fotonya biasa aja dan caption-nya juga gak mengundang provokasi. Menurut ane, sih. Eh, bukan karna ane ateis ya. Mungkin karna daya ledak ane ringan 😆

Ane justru bangga dan berbahagia ketika semua penduduk Indonesia beragama, selalu menyertakan Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya – dan untuk hal ini ane yakin kita jauh lebih baik daripada barat sono. Sayangnya, dalam beberapa kasus banyak yang sepertinya overdosis agama. 

“Orang ngomongin agama kok ndak suka to, mbakyu?”

Eits, tunggu dulu! Sekali lagi ane bukan ateis, lo. Dan ane bukannya gak suka kalau ada yang ngomongin agama. 

Overdosis menurut KBBI merupakan ukuran (obat dan sebagainya) yang berlebihan. Dalam hal beragama 11 – 12 dengan obat. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan – agama untuk kesembuhan rohani, obat untuk kesembuhan raga. Diberikan sesuai dengan penyakitnya setelah didiagnosa. Keduanya sama-sama bisa meracuni ketika dosis yang dipakai tidak pas, berlebihan! Bedanya adalah agama diberikan oleh Allah melalui rasul-Nya dan yang pasti gak mungkin salah diagnosa. Jadi cara ‘pemakaian’ agama tergantung dari penganutnya. Kalau ada yang overdosis ya itu berarti orang tersebut yang salah pemahamannya berikut penerapannya, bukan karna ajaran agamanya yang kelewat fanatik. 

Ane pernah baca kalau salah satu penyebab orang overdosis agama adalah karena kurangnya pengetahuan terhadap agama. Lalu ada apa dengan orang-orang yang mendadak pada ribut bawa-bawa agama – dan beradu dengan pemeluk agama lain – hanya karna lihat foto Hagia Sophia itu? #nahlo 😱 

Yang paling lucu bagi ane, salah satu komentar bilang kalau kiamat sudah dekat diikuti dengan tag ke temannya. Komentar ini pun bikin penganut agama lain jadi salah paham dengan dia. Terlebih lagi ybs mengenakan atribut keagamaan di fotonya. Eh, ternyata ybs gak tau sejarah penaklukan Konstantinopel yang sudah jauh-jauh hari diberitakan oleh Rasulullah SAW dan ujungnya juga gak tau tentang Hagia Sophia apalagi Muhammad Al-Fatih 😢 Alhamdulillah, dia berjiwa besar mau mengakui kesalahannya dalam berkomentar plus ketidaktahuannya.

Ane nulis begini bukan karna ane orang suci (seperti kata anak-anak alay yang ketika dinasehatin selalu balik nanya, “Emang kamu suci?” – maaf ya dek nama ane bukan Suci 😛), bukan pula karna ilmu agama ane sempurna. Ane juga beragama dan sering merasakan bagaimana rasanya ketika hasrat untuk mati-matian membela apa yang kita anut itu muncul. Tapi kita beragama supaya sembuh dari penyakit-penyakit rohaniah, bukan untuk keblinger karna ketidaksesuaian dalam pemahaman dan penerapannya sebab kurangnya ilmu kita. Apalagi sampai menimbulkan perpecahan ke internal dan eksternal. Waduh! 😭 

Agama salah satu hal tersensitif di dunia. Manusia bisa tiba-tiba mendeklarasikan perang ketika agama mereka diuprek-uprek. Maka jika ingin membela, belalah dengan ilmu. Jika ingin berkomentar, berkomentarlah dengan ilmu. Kalau gak tau, diam dan belajarlah. Kalau gak mau diam, bertanyalah atau berdiskusilah. Jangan berdebat mancing emosi walaupun sekedar di dunia maya. Efeknya justru bisa lebih luas karna semua orang bisa mengakses dan melihat 😊 

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa Allah menurunkan perintah iqra’ (bacalah) kepada Rasulullah SAW sebagai wahyu pertama. Kelihatannya sederhana, bacalah. Tapi ternyata ini bisa menyelamatkan dari kesesatan hingga perpecahan antarmanusia. Menyelamatkan dari overdosis dalam beragama.

Aduh, jadi terharu.. Kurang lebihnya itulah yang mau ane ungkapkan. Semoga bisa ditangkap maksudnya. Kalau ada salah-salah serta perasaan tidak berkenan, maapin ya 👼 Ane gak ada niatan untuk menyakiti, memojokkan, maupun menginjak-injak pihak tertentu. Karna kita sesama manusia ciptaan-Nya – bukan samsak untuk dipukuli, bukan batu sandungan untuk dipojokkan, dan juga bukan karpet untuk diinjak. Mari kita sama-sama saling menjaga supaya tidak terjebak dalam lingkaran khilaf berjamaah dan dari labeling kurang piknik sebab ketidaktahuan kita. 

Quote original dari ane sebagai penutup (ane juga punya quote, wee 😛):

“Dalam kehidupan nyata kita tidak bisa terus-menerus berpiknik untuk mengetahui berbagai hal tapi kita bisa belajar dan membaca setiap saat, seumur hidup.”

-azb

Image
1

Galata Mawlavi House Museum

Situs: Galata Mawlavi House Museum/Galata Mevlevihanesi Müzesi

Lokasi: Istanbul

Hari dan Jam Operasional: Setiap hari kecuali Senin, pukul 09.30 – 17.00

Harga Tiket: 10TL

Müzekart/Museum Pass: Berlaku

Website: http://www.galatamevlevihanesimuzesi.gov.tr

***

Sejak berkunjung ke Mevlana Müzesi di Konya tahun 2014 lalu, ane penasaran dengan sufi. Setelah kembali lagi ke Turki taun lalu, harapan ane buat ke sana lagi belum bisa direalisasikan 😞 Tapi ternyata di Istanbul juga ada 😄 Ane dan pak bos pun langsung ke sana sore-sore di hari Minggu lalu. 

Mevlana Müzesi di Konya (konya.neredekal.com)


Kami berharap bisa nonton tari sufi dulu sebelum keliling museum. Jadwalnya setiap hari Minggu jam 17.00 dan pembelian tiketnya ditutup jam 16.00. Tiket buat nonton tari sufi ini terpisah sama tiket museum – harganya 50TL dan gak bisa pakai Müzekart atau Museum Pass. 

Sayangnya pasca percobaan kudeta tanggal 15 Juli kemarin, tari sufi ditunda dulu dan baru ada lagi nanti bulan September (ini kata mbak-mbak ticketing-nya). Ane dan pak bos pun gagal nonton tari sufi. Sedih juga karna waktu ke Mevlana Müzesi ane juga gak bisa nonton karna dateng pas bukan weekend 😭 Kenapa weekend? Denger-denger dari temen sih karna para penari sufi ini juga berprofesi sebagai dokter, guru, dsb. 

Akhirnya kami cuma dapet jalan ke museumnya. 

Bangunannya tingkat tiga dan merupakan Mevlevihanesi yang pertama di Istanbul. Mevlevihanesi itu apa? Kalau dibahasa Indonesiakan artinya pondok sufi tarikat mawlawi (mereka adalah pengikut Maulana Jalaluddin Rumi).

Galata Mevlevihanesi dibangun tahun 1491 pada masa pemerintahan Sultan Beyazid II. Mengalami restorasi berkali-kali tapi masih bisa diliat jejak bangunan aslinya berupa kayu-kayu di dinding maupun lantainya yang sekarang dilindungi dengan kaca tebal 😊

Mulai dari lantai dasar, isinya perkenalan tentang kehidupan sufi di Turki. Mulai dari dapur, ruang ibadah, sampai pakaian yang digunakan untuk tari sufi. 

pakaian untuk tari sufi

ijazah di ruang literatur

Foto-fotonya gak diambil secara sembunyi-sembunyi, yah. Memang ane suka foto-foto situs atau objek sejarah tapi dengan tetap menghargai larangan yang ada. Dan kebetulan di sana dilarang untuk motret. 

Kami baru berani motret setelah tanya ke security-nya. Berhubung dijawab boleh asalkan gak pakai flash maka ane ambil beberapa foto. Cuma ane gak akan posting semua hasil jepretannya kemari. Biar pada penasaran 😀 Niatan ane sekedar untuk membantu supaya Galata Mevlevihanesi lebih terekspose ke publik (ingat setelah beberapa bulan ane baru tau tempat ini eksis). 

Ayo lanjut ke lantai dua! Di sana ada semahane atau tempat untuk melakukan tari sufi.

semahane di Galata Mevlevihanesi

Ane ngerasa ada semacam hawa mistis waktu di semahane. Bukan mistis dalam artian yang berkaitan dengan makhluk astral, melainkan mistis secara spiritual keagamaan. Entahlah pak bos merasakannya juga atau enggak. Dengan mengingat bahwa tari sufi ini adalah cara mereka untuk berdzikir, jadi tari sufi bukan sekedar pertunjukan biasa. Wajar kalau di sana tercipta hawa-hawa spiritual yang kuat. 

Nah, kalau mau lihat-lihat hasil seni mereka naiklah ke lantai tiga. Ada ebru (seni melukis di atas air), kaligrafi, plus Pysyoghnomy of the Prophet. Untuk yang terakhir ane sebut, ane masih belum paham maksudnya apa. Bentuknya kayak transkrip dan dilindungi sama garis pembatas. Ane jadi gak bisa deket-deket liatnya 😢

penjelasan mengenai Pysyoghnomy of the Prophet

Kelupaan di awal.. Masuk Galata Mevlevihanesi gak lewat pemeriksaan xray. Barang bawaan tetap dicek sama security. Kebetulan waktu itu security-nya bahasanya sopan sekali. Pak bos sampai pekewuh saking sopannya itu abang-abang security 😂 *alhamdulillah, ketemu orang sopan*. Eh, bukan berarti security di sini pada gak sopan ya. Kami terkesan aja sama yang satu ini 😊 

Jadi begitulah hasil kunjungan kami. Maaf karna gak bisa terlalu banyak menjelaskan tentang sufism – gak kompeten. Dulu pernah sempat baca-baca dan ngobrol dengan salah satu pengikutnya. Sayangnya pemahaman ane gak sampai 😞 

Pokoknya harus kemari kalau ada rejeki ke Turki!

Image
0

Istanbul Museum of History of Islamic Science and Technology 

Situs: Istanbul Museum of History of Islamic Science Technology/İslam Bilim ve Teknoloji Tarihi Müzesi 

Lokasi: Istanbul 

Hari dan Jam Operasional: Setiap hari (kecuali Selasa) pukul 09.00 – 16.30

Harga Tiket: 10TL

Müzekart/Museum Pass: Berlaku

Website: http://www.ibttm.org

***

Ceritanya jalan ke museum biar keliatan berkelas 😂 Aslinya paham gak paham juga sama isinya 😛 Ah, sudahlah.. Selagi masih pegang Müzekart, mari dimanfaatkan saja. Setidaknya bisa berbagi apa yang pernah dilihat kemari 😊

Museum ini posisinya ada di dalam Gülhane Park (taman Istana Topkapı). Kudu jalan agak ke dalam taman buat sampai ke ini museum 😋 Gak sulit buat ditemuin, sih. Tinggal jalan aja lurus ke dalam taman sampai ketemu cafe di sisi kiri. Nah, bangunan setelah cafe itu ya si museum ini. Cuma karna gak ada papan penunjuknya – entah gak ada atau ane yang gak liat – museum jadi ‘kurang kasat mata’. Kalau cafe-nya, sih, ada penunjuknya. 

Sesuai namanya, isinya tentang perkembangan pengetahuan dan teknologi di masa Islam terdahulu. Kesan pertama waktu liat gedungnya dari luar: monoton. Kontras sama cafe yang ada di sebelahnya – penuh orang dan ‘hidup’. Ditambah cuaca lagi panas-panasnya jadi keliatan gersang juga 🍂 Duh..

Tapi jangan ngacir dulu! 🐙

“Kenali adek dari dalam, mas. Jangan dari apa yang mas lihat di luar.” 😀

Mari kita dekati museum ini. 

Begitu masuk, suasananya beda. Sendu-sendu gimana gitu 😳 Dan adem juga. Ngikutin kata mbak-mbak bagian ticketing-nya, ane dan pak bos naik ke lantai dua. Mulai menjelajah dari lantai atas. 

Yang kami lihat pertama adalah mini theater. Nemu kursi empuk pada berjejer, ane langsung ambil tempat – mantengin layar yang berusaha dengan usaha terbaiknya untuk menjelaskan secara general tentang isi museum. Ane ngetem di sana agak lamaan demi menghargai si layar 😘 *padahal niat aslinya cuma kepengen duduk*. 

Show room di museum ini sendiri dibagi per subjek. Setelah mini theater, ada astronomi. Isinya alat untuk menghitung perbintangan, globe perbintangan, jam matahari, dsb. 

(atas) mesin kalender matahari dan bulan; (bawah) jam matahari

Maapin kalau bahasanya seadanya, yak 😅 Selain karna ane gak hafal alat-alat itu namanya apa aja, kasian kalau ada yang pengen tau juga tapi gagal paham karna istilah yang ane pakai ‘berat’. Beraaattt.. 😰

Ane juga gak ambil banyak foto. Pak bos udah uring-uringan liat istrinya jepret sana-sini sejak kita masih di sekitaran Hagia Sophia. Mungkin merasa dianggurin *cie yang dianggurin aja* 😂 Maaf, itu poin pertama. Kedua, ane pikir di sini sama kayak Topkapı Sarayı yang melarang objek buat difoto. Jadilah ane liat-liat sambil ngempet pikiran, “Boleh difoto gak, ya?” 

Tiba-tiba, security yang lagi jaga di bagian astronomi bilang ke pak bos kalau objek boleh difoto. Ngeri juga ane dibuatnya. Di samping doi barusan bertingkah layaknya mind reader, ekspresinya juga aneh. Dari kejauhan ngeliatin kami macem adegan di film-film psiko. Tapi liat tasbih ada di tangannya, ane mulai ngerasa kalau ada yang gak beres. Dan bener. Begitu ane liat ke kaca, muka ane muka orang kebelet. Udah mbladus, kebelet (pengen motret) pula. Bisa jadi selama itu si security sedang baca doa pengusir jin 😢

Oke, itu pelajaran aja supaya sebelum menilai ada yang salah dengan orang lain, liat muka sendiri dulu – mbladus kagak? 😗

Lanjut lagi ke museum, ada jam segede gaban yang awalnya ane pikir sebagai photo box 😅 Ternyata itu replika jam air dari Fez (kota di Maroko) yang dibuat tahun 1362. Ini dia jamnya:

(atas) jam secara keseluruhan; (bawah) mesin jam

Selepas astronomi, kami jalan ke bagian teknologi perang. Isinya miniatur alat-alat yang digunakan untuk perang di jaman behula.  

counterweight trebuchet

(atas) windless crossbow; (bawah) large triple crossbow

alat pendobrak benteng dan benteng yang didobraknya

Kalau liat miniaturnya, sih, keliatan menggemaskan. Tapi ane gak bisa bayangin ada di tengah-tengah peperangan dengan peralatan macem itu. Kalau jaman sekarang? Denger suara F16 terbang rendah aja ane udah ngeden kemana-mana *efek tanggal 15* 😞 Lalu apa kabar saudara kita yang ada di Palestina, Suriah, dan negara lain yang sedang berperang sekarang? 😭 Ingat nasehat eyang Sun Tzu, “Tidak ada kedamaian yang dihasilkan oleh perang yang berkelanjutan..” 

Mari lepaskan peperangan. Kita obati setiap luka yang ada 😄 Yuk, intip bagian kedokterannya..

(bawah) peralatan medis ginekologi

“Kok tambah ngeri, mbok?” 😭

Ane terdiam waktu liat alat-alat itu. Ane kagak ngibul biar keliatan dramatis (maaf, udah pakai mascara Maybell*ne). Sesungguhnya, ane ini termasuk orang yang mendadak gagu kalau ketemu dokter serta penyandang miopi. Dan foto yang di atas – yang mirip miniatur peralatan nyawah – dipakai untuk penanganan medis terhadap mata 😲 Itu kalau ane gak salah inget, sih 😅

Masih ada show room untuk bebatuan alam, geografi, kimia, fisika, arsitektur, dsb di lantai bawah. Semuanya punya pesonanya tersendiri #cieee. Tapi menurut ane, tiga subjek yang ane jabarin – dengan absurd – di atas dan bela-belain buat jepretin fotonya adalah yang paling menarik. 

Tambahan, waktu ke sana gak ada pengunjung selain ane dan pak bos. Baru setelahnya datang dua pasang turis suami istri yang kalau diliat dari mukanya sih orang Arab. Entah karna hari Sabtu itu kebetulan sepi atau memang orang-orang kurang berminat untuk ke museum. Padahal sayang banget kalau kita sekedar ‘hidup di jaman ini’. 

Akhir kata, museum bukan hanya tempat bagi mereka yang gagal move on tapi juga bagi para pembelajar. Berharap sebelum akhir jaman yang terlalu akhir, museum – dan juga tempat ibadah – akan penuh layaknya kafe meong 😊 

Sebagai kenang-kenangan karna sudah mampir: 

pembuat döner yang dirancang berdasarkan ilustrasi dan deskripsi dari buku ilmuan Ottoman Taqi al-Din tahun 1546